EmitenNews.com - Kontrak berjangka saham Amerika Serikat bergerak datar pada Rabu (2/9/2026). Pergerakan ini terjadi setelah indeks utama Wall Street mencatatkan tren penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut akibat lonjakan imbal hasil obligasi global dan harga minyak mentah.

Kenaikan harga energi dan yield obligasi tersebut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap ancaman inflasi tinggi serta potensi kenaikan suku bunga acuan bank sentral.

Berdasarkan laporan Trading Economics, pada sesi perdagangan reguler Selasa, Indeks Dow Jones merosot 0,79 persen, S&P 500 terkoreksi 0,71 persen, dan Nasdaq Composite anjlok 1,03 persen. Sebanyak tujuh dari 11 sektor di S&P 500 berakhir di zona merah, dengan penurunan terdalam dialami oleh sektor barang konsumsi non-esensial, industri, dan material.

Aksi jual masif pada instrumen obligasi global turut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun melesat ke level tertinggi sejak awal 2025. Di saat bersamaan, lonjakan harga minyak mentah dunia makin tereskalasi akibat memanasnya konflik militer antara AS dan Iran di kawasan Selat Hormuz.

Para pelaku pasar global saat ini mengalihkan perhatian pada rilis data penggajian swasta ADP dan laporan Beige Book dari Federal Reserve. Investor juga mencermati laporan kinerja keuangan kuartalan dari sejumlah korporasi teknologi besar seperti Broadcom, Hewlett Packard, dan Snowflake.

Pelemahan berturut-turut Wall Street dan lonjakan imbal hasil obligasi AS ini berpotensi memberikan sentimen negatif bagi pasar keuangan Indonesia. Kenaikan yield US Treasury berisiko menekan nilai tukar Rupiah sekaligus memicu aksi jual asing (capital outflow) dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).(*)