EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan kabar suspensi sementara perdagangan empat saham menyusul ledakan harga yang dinilai tak wajar. Suspensi mulai berlaku efektif pada Jumat (9/1/2026) di pasar reguler dan tunai sebagai bagian dari langkah perlindungan investor.

Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Yulianto Aji Sadono, menjelaskan bahwa penghentian sementara ini dilakukan karena saham-saham tersebut mengalami peningkatan harga kumulatif yang signifikan dalam waktu singkat.

“Suspensi ini dilakukan sebagai bentuk cooling down dan perlindungan bagi investor agar dapat mencermati informasi secara seimbang sebelum melakukan keputusan investasi,” ringkas Yulianto dalam keterangan tertulis BEI.

Saham pertama yang disuspensi adalah PT Prima Globalindo Logistik Tbk (PPGL). PPGL masuk kategori suspensi pertama dan diperkirakan hanya berlangsung satu hari perdagangan, sehingga berpeluang kembali diperdagangkan normal pada sesi berikutnya.

Sebelum digembok bursa, saham PPGL pada perdagangan Kamis (8/1) menyentuh Auto-Reject Atas (ARA) dengan kenaikan 9,68 persen atau naik 24 poin ke level Rp272.

Selanjutnya, BEI juga menyuspensi saham sawit PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) dan saham kapal PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD). Keduanya masuk dalam kategori suspensi kedua dan diperkirakan akan berlangsung hingga sekitar satu minggu, dengan status Full Call Auction (FCA) saat dibuka kembali.

Sebagai catatan, saham NSSS sebelumnya telah disuspensi pada 30 Desember 2025, sementara saham LEAD sempat dihentikan perdagangannya pada 2 Januari 2026. Sebelum suspensi terbaru, saham LEAD pada Kamis (8/1) melonjak 11,76 persen atau naik 24 poin ke Rp228.

Adapun, saham NSSS mencatatkan lonjakan paling agresif. Pada perdagangan terakhir sebelum suspensi, NSSS melambung 21,36 persen, setara naik 220 poin ke level Rp1.250.

Sementara itu, saham PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) kembali digembok untuk ketiga kalinya dan diperkirakan akan menjalani suspensi lebih panjang, hingga potensi dikunci sekitar satu bulan lamanya, serta berpotensi berstatus FCA saat dibuka kembali.

BEI mencatat, surat keputusan suspensi pertama pada 2 Desember 2025, dan suspensi kedua LUCY terbit pada 4 Desember 2025. Pada perdagangan terakhir Kamis (8/1), saham LUCY melambung mentok ARA dengan kenaikan 9,87 persen atau melonjak 75 poin ke Rp835.