EmitenNews.com - Menyambung artikel sebelumnya bertajuk "Pasar Jeruk Busuk" soal dana asing yang menarik diri dari saham-saham konglomerasi, ada satu realitas baru yang sekarang harus kita hadapi. Kalau saham-saham fundamental berkapitalisasi jumbo itu diturunkan dari etalase utama bursa yakni indeks LQ45, lalu siapa yang menggantikannya?

Baca Juga Pasar Jeruk Busuk: Alasan IHSG Anjlok & Asing Buang Barang

Bursa Efek Indonesia (BEI) baru saja mengumumkan hasil evaluasi daftar saham untuk periode Mei hingga Juli 2026. Sesuai dugaan, nama-nama besar yang porsi saham publiknya terlalu kecil (High Shareholding Concentration) atau belakangan ini mulai sepi transaksi, akhirnya resmi didepak. BREN, DSSA, CTRA, HEAL, dan NCKL harus rela keluar dari indeks bergengsi LQ45. Namun, yang paling mengundang rasa penasaran justru siapa saja yang masuk menggantikan mereka. 

Runtuhnya Mitos LQ45 sebagai Hall of Fame

Salah satu salah kaprah yang paling sering menjebak kita sebagai investor ritel adalah menganggap LQ45 sebagai semacam Hall of Fame alias daftar suci berisi 45 perusahaan dengan fundamental bisnis terbaik, manajemen paling bersih, dan valuasi yang sudah pasti murah.

Kenyataannya, mesin bursa tidak bekerja dengan sentimen seperti itu. LQ45 pada dasarnya adalah indeks likuiditas, bukan indeks profitabilitas. Tugas utama bursa saat melakukan evaluasi bukanlah menilai seberapa mulia bisnis suatu emiten, melainkan seberapa deras perputaran uang riil (turnover) yang terjadi di lapak saham tersebut setiap harinya.

Untuk melihat perubahan arah angin ini, kita bisa membedah profil emiten yang baru saja masuk ke LQ45. Kursi yang kosong kini diisi oleh deretan saham yang di kalangan pelaku pasar terkenal sering naik-turun secara agresif. CUAN masuk dengan porsi bobot di indeks sebesar 1,46%. DEWA menyusul dengan bobot 0,80%. ESSA masuk dengan bobot 0,47%. HRTA ikut masuk dengan bobot 0,23%. Sementara WIFI melengkapi dengan bobot 0,31%.

Kenapa saham-saham yang pergerakannya sering bikin senam jantung ini malah diberi karpet merah? Jawabannya ada pada prinsip paling dasar di pasar modal: likuiditas memanggil likuiditas.

Saham-saham pendatang baru ini terbukti berhasil membuat pasar sangat hidup dan aktif. Bagi manajer investasi yang mengelola dana triliunan rupiah, mereka butuh kepastian bahwa saham yang mereka beli bisa dijual kembali kapan saja dengan cepat tanpa merusak harga pasar. Dari sudut pandang ini, saham dengan transaksi harian yang masif jauh lebih berharga secara mekanis dibandingkan saham berfundamental emas tapi barangnya susah diperjualbelikan.

Penyesuaian yang Menular ke IDX80

Fenomena bursa yang mengapresiasi keramaian transaksi ini rupanya tidak berhenti di LQ45 saja. Kalau kita memperluas pantauan ke indeks IDX80, polanya terlihat semakin jelas.

Saham-saham yang biasanya menjadi arena bermain favorit para trader harian berisiko tinggi juga berhasil menembus daftar. Emiten dengan rekam jejak fluktuasi tajam seperti BKSL dan CBDK secara resmi dimasukkan ke dalam perhitungan indeks IDX80 untuk periode yang sama. Hal ini semakin menegaskan bahwa bursa sedang menata ulang etalasenya murni untuk memajang saham-saham yang lapaknya paling ramai, terlepas dari apa pemicu keramaian tersebut.