EmitenNews.com - Laporan keuangan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) pada kuartal ketiga 2026 akhirnya membawa angin segar bagi pasar. Di saat publik mengira era startup digital babak belur tanpa subsidi, GOTO justru membalikkan keadaan dengan mencetak laba bersih entitas induk sebesar Rp1,16 triliun.

Angka ini berbalik 180 derajat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang masih mencatat rugi bersih Rp775 miliar. Tidak hanya itu, pendapatan bersih konsolidasian tumbuh solid 24 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp16,54 triliun, sementara laba usaha menyentuh nilai Rp1,13 triliun. Capaian ini membuktikan bahwa laju keuntungan GOTO bukan sekadar hasil potong biaya atau efisiensi karyawan semata, melainkan didorong oleh pertumbuhan pendapatan (top-line) yang benar-benar solid.

Jika dibedah lebih rinci, kontribusi laba usaha konsolidasi sebesar Rp1,13 triliun tersebut ditopang oleh tiga pilar utama: segmen On-Demand Services memimpin dengan laba usaha Rp1,04 triliun dari pendapatan Rp9,99 triliun, disusul segmen Financial Technology dengan laba usaha Rp781 miliar dari pendapatan Rp5,79 triliun, serta segmen E-Commerce yang menyumbang laba usaha Rp674 miliar dari pendapatan Rp786 miliar.

Menariknya, di antara seluruh pilar tersebut, bisnis pinjaman dan paylater di segmen fintech menjadi bintang utama dengan ayunan (swing) kinerja paling drastis dari zona merah menuju kontributor laba yang masif. Lonjakan tajam inilah yang berhasil menambal kebocoran masa lalu dan mengunci status profit bagi GOTO. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana strategi bisnis GOTO berhasil mengubah perilaku konsumen secara psikologis, sejalan dengan temuan dalam teori ekonomi dan keuangan perilaku.

Tombol Instan di Layar HP Bikin Pengguna Gampang Ngutang

Perubahan paling mencolok dalam kinerja GOTO terlihat dari bagaimana mereka merancang kemudahan bertransaksi lewat fitur bayar nanti (paylater) di dalam aplikasi. Dalam literatur ekonomi perilaku, Richard Thaler dan Cass Sunstein (2008) melalui buku Nudge: Improving Decisions About Health, Wealth, and Happiness menjelaskan bahwa manusia secara alami cenderung memilih opsi praktis yang paling mudah dijangkau tanpa perlu berpikir panjang (default bias).

GOTO mempraktikkan konsep ini dengan menempatkan tombol pembayaran secara mulus di ujung jari saat pengguna memesan makanan atau belanja, tanpa mengharuskan mereka mengunduh aplikasi pinjaman terpisah. 

Selain itu, konsep mental accounting yang diteliti oleh Thaler (1985) dalam jurnal Marketing Science menunjukkan bahwa konsumen memperlakukan uang secara berbeda bergantung sumbernya. Ketika sensasi membayar tunai ditunda lewat sistem digital, hambatan psikologis untuk mengeluarkan uang menjadi tumpul, yang pada akhirnya memicu pembelian impulsif dan menaikkan rata-rata nilai belanja pengguna.

Baca Juga: Mal Kuasai 65% Omzet PWON, Laba Bersih Turun Cuma Imbas Kurs

Kenapa Pengguna Tetap Setia Meski Promo dan Diskon Disikat Habis?