Festival Ngopi Sepuluh Ewu, Ramahnya Warga Banyuwangi Terima Tamu
:
0
Festival Ngopi Sepuluh Ewu, yang digelar di Jalan Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, pada Sabtu (8/11/2025) malam. Dok. Tribunnews.
EmitenNews.com - Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur mengukuhkan diri sebagai daerah wisata. Salah satunya melalui Festival Ngopi Sepuluh Ewu, yang digelar, di Jalan Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, pada Sabtu (8/11/2025) malam. Ribuan warga dari berbagai daerah antusias mengikuti kegiatan tersebut.
Dalam catatan yang dikumpulkan Ahad (9/11/2025), diketahui bahwa Ngopi Sepuluh Ewu (minum kopi sepuluh ribu) yang sudah berlangsung sejak 2014 itu, menjadi salah satu agenda tahunan yang dinanti wisatawan dari berbagai daerah maupun wisatawan mancanegara.
"Momentum ini selain mengenalkan kopi Banyuwangi yang telah dikenal luas hingga ke luar negeri, juga menjadi sarana mempererat kebersamaan dan persaudaraan antarwarga," kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Bupati Ipuk mengapresiasi Desa Kemiren yang tahun ini meraih dua penghargaan bergengsi di tingkat dunia: Internasional The 5th ASEAN Homestay Award dan salah satu desa wisata terbaik dunia The Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025 dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui United Nations Tourism (UN Tourism).
"Pemerintah daerah selalu mendukung untuk bisa menjaga budaya Banyuwangi secara bersama-sama," katanya.
Bupati Ipuk Fiestiandani turut hadir menikmati kopi bersama warga, tampak luwes saja berbaur tanpa sekat. Ia nampak aktif menyapa, mengobrol santai bersama pengunjung dan warga setempat.
Festival Ngopi Sepuluh Sewu tahun ini juga dihadiri selebgram Winona Araminta yang datang bersama keluarganya.
Sementara itu, Kepala Desa Kemiren M Arifin mengatakan festival itu telah berlangsung selama 12 tahun berkat dukungan dan kekompakan warga desa setempat. Kegiatan itu tak lepas dari filosofi yang dipegang masyarakat Osing yakni suguh, gupuh lungguh dalam menerima tamu.
Suguh berarti suguhan atau hidangan, gupuh artinya antusias dalam menerima tamu, dan lungguh (duduk) memiliki filosofi menyiapkan tempat sebaik-baiknya bagi setiap tamu yang datang.
"Ngopi sepuluh ewu ini adalah bentuk nyata dari suguh, gupuh, lungguh masyarakat Osing dalam menerima tamu. Kegiatan ini juga menjadi sarana pemberdayaan ekonomi warga, sekaligus menjaga warisan budaya," kata Kades Arifin seperti ditulis Antara.
Related News
Atasi Fluktuasi Plastik, Bapanas Gunakan Kemasan SPHP 2023-2025
Wonosobo Disiapkan Jadi Sentra Susu, Kementan Undang Investor Masuk
Genjot Daya Tarik Investasi, Kementerian Pacu Pengembangan SDM Vokasi
Hadapi El Nino, Kementan Tanam Padi Serentak di 16 Provinsi
Kemenhaj Petakan 177 Hotel di 5 Wilayah Makkah
Menaker: Pekerja Informal Harus Masuk Skema Jaminan Sosial





