Fitch Ratings: Harga Sukuk dan Obligasi Hampir Sama, Sukuk Kurang Likuid
:
0
EmitenNews.com—Harga sukuk dan obligasi yang paling sebanding terus berkorelasi tinggi pada tahun 2022 meskipun volatilitas pasar seperti kenaikan suku bunga dan tantangan geopolitik, kata Fitch Ratings.
Namun, ada kasus harga obligasi jatuh lebih dari sukuk sejenis. Hal ini dikarenakan sukuk kurang likuid dibandingkan obligasi pada umumnya, karena sifat beli-dan-tahan sebagian besar investor sukuk, yang sebagian besar adalah bank syariah. Kami perkirakan tren ini akan berlanjut di tahun 2023. Namun, profil likuiditas sebagian besar bank syariah di GCC umumnya tetap utuh.
Fitch menganalisis harga 40 sukuk dan obligasi serupa yang diterbitkan oleh obligor yang sama dari GCC, Malaysia, Indonesia, dan Turkiye. Selama kondisi pasar normal, yield-to-maturity mereka berkorelasi kuat. Misalnya, antara tahun 2018 dan 2022, sukuk dan obligasi yang sebanding memiliki korelasi harga rata-rata 0,9.
Di balik kenaikan suku bunga pada tahun 2022, indeks sukuk yang dianalisis oleh Fitch turun 6,4% sepanjang tahun. Namun, itu mengungguli Indeks Obligasi Pasar Berkembang yang luas, yang turun 15,7%. Kinerja sukuk yang lebih baik juga didukung oleh bobot eksportir minyak yang lebih tinggi dalam indeks sukuk.
Sejumlah besar sukuk diterbitkan pada Januari dan Februari 2023, termasuk oleh Mesir, Dubai Islamic Bank, First Abu Dhabi Bank, dan Emirates Islamic, dengan jalur penerbitan yang semakin meningkat. Pada tahun 2022, penerbitan sukuk dari pasar inti GCC, Malaysia, Indonesia, Turkiye, dan Pakistan (termasuk multilateral) turun 7,9% menjadi USD244,3 miliar. Hal ini disebabkan harga minyak yang lebih tinggi, kenaikan suku bunga dan driver geopolitik. Namun, itu melampaui penerbitan obligasi di pasar inti, yang turun 22,1%.
Related News
Penguatan Berlanjut, IHSG Selasa (5/5) Tutup di Atas Level 7.000
Ekonomi Tumbuh Sesuai Harapan Pasar, Waspadai Kontraksi PMI Manufaktur
Era AI Trading, IPOT Sodorkan UI/UX Berbasis AI Real Time
IHSG Melenggang di Sesi I (5/5) Balik ke Level 7.000
Penjualan Toyota Motor Pada Maret 2026 Susut 5,8 Persen
Kemenperin Siapkan Insentif Bentengi Industri Dari Gejolak Geopolitik





