EmitenNews.com - PT Adaro Energy (ADRO) akan segera melakukan pembelian saham kembali (buyback) senilai Rp4 triliun. Rencana itu, bersandar pada POJK No. 2/2013 dan SEOJK No. 3/2020, jumlah saham yang dibeli kembali tidak akan melebihi 20 persen dari modal disetor dengan ketentuan paling sedikit saham beredar 7,5 persen dari modal disetor perseroan.
Buyback akan dilakukan secara bertahap. Pada rentang periode tiga bulan. Itu terhitung sejak tanggal Keterbukaan Informasi diterbitkan. Tepatnya, mulai Selasa, 28 September 2021 hingga 26 Desember 2021. ”Buyback tidak akan berpengaruh negatif terhadap kinerja dan pendapatan. Maklum, saldo laba dan arus kas kuat untuk pelaksanaan hajatan tersebut,” tutur Sekretaris Perusahaan Adaro Energy Mahardika Putranto dalam keterbukaan informasi, Senin (27/9).
Menyusul buyback saham itu, sampai 30 Juni 2021 total aset Adaro Energy akan berkurang menjadi USD6,45 miliar dari sebelumnya USD6,73 miliar . Kemudian, laba periode berjalan tetap pada USD189,29 juta. Sedang ekuitas berkurang dari USD4,04 miliar menjadi USD3,76 miliar.
Buyback saham Adaro Energy akan dilakukan melalui transaksi melalui pasar reguler di BEI. Di mana, perseroan telah menunjuk satu perusahaan efek untuk memuluskan rencana tersebut. Buyback saham itu, akan memakai kas internal. Sebab, permodalan dan arus kas cukup baik untuk membiayai seluruh kegiatan usaha, operasional, belanja modal, dan tidak terkecuali buyback saham.
”Kami berharap buyback saham memberi tingkat pengembalian secara baik bagi pemegang saham, dan meningkatkan kepercayaan investor. Dengan begitu, harga saham merefleksikan kondisi fundamental Adaro Energy,” harapnya.
Selanjutnya, perseroan akan melakukan pengalihan atas saham hasil pembelian kembali dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan berlaku, khususnya POJK No. 2/2013. (*)
Related News
ELSA Tuntaskan Survei Seismik 3D OBN Zulu NorthÂ
BIPI Ungkap Transaksi Anyar
Sepanjang 2025, Laba dan Pendapatan PNBN Tumbuh Minimalis
Andalkan BSD City, BSDE Optimistis Raup Prapenjualan Rp10 Triliun
Laba SOCI Melorot 55 Persen, Telisik Ini Penyebabnya
Melejit 48 Persen, BNII Sudahi 2025 dengan Laba Rp1,65 Triliun





