Gejolak Pasar Tekan Aksi Korporasi: 23 IPO Mundur & Sepinya Obligasi
:
0
Potret tampak depan gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto: EmitenNews.
EmitenNews.com - Penggalangan dana di pasar modal melalui pencatatan saham (IPO), penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS), serta rights issue nyaris terkumpul Rp200 triliun hingga 30 Oktober 2026, namun gejolak pasar mulai membayangi rencana aksi korporasi ke depan.
Berdasarkan data paparan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), diakses Senin (2/11/2026) total dana yang dihimpun dari ketiga aksi tersebut mencapai Rp197,24 triliun. Penerbitan EBUS menjadi kontributor terbesar Rp157,73 triliun, disusul rights issue Rp37,35 triliun dan IPO Rp2,16 triliun.
Dari IPO, sebanyak tujuh perusahaan telah mencatatkan saham di BEI hingga 30 Oktober 2026.
Sementara terdapat sembilan perusahaan dalam pipeline IPO yang terdiri atas satu perusahaan aset skala kecil di bawah Rp50 miliar, lima perusahaan skala menengah Rp50 miliar- Rp250 miliar, serta tiga perusahaan skala besar di atas Rp250 miliar.
Pada instrumen EBUS, hingga 30 Oktober telah diterbitkan 156 emisi dari 67 penerbit. Masih terdapat 27 emisi dari 17 penerbit dalam pipeline yang terdiri atas lima emisi dari sektor infrastruktur, masing-masing tiga emisi dari bahan baku, energi, dan keuangan, serta masing-masing satu emisi dari industri, properti, dan transportasi.
Sementara rights issue, sebanyak 16 perusahaan telah menerbitkan saham baru dengan total Rp37,35 triliun, dengan satu perusahaan properti masih dalam pipeline.
Namun di balik capaian tersebut, OJK dan BEI mengakui sejumlah emiten mulai menahan rencana penerbitan obligasi korporasi dan IPO. Dikabarkan bahwa sebanyak 23 perusahaan menunda rencana IPO di tengah gejolak pasar saat ini.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik dalam pernyataan terbarunya mengatakan kondisi tekanan ini tak luput dari geopolitik nasional hingga global.
"Ketidakpastian (ini) yang menimbulkan ketidakpastian yang berlebihan. Sejak beberapa tahun lalu, ketidakpastian di pasar itu mulai dari tensi geopolitik, di Timur Tengah, di Rusia, kemudian perang dagang dan lainnya itu kan selalu menimbulkan ketidakpastian," ujar Heffrey
Menurut Jeffrey, pasar memang harus memasukkan unsur ketidakpastian tersebut. Menjawab soal emiten yang menunda obligasi, ia berharap kondisi pasar kembali kondusif.
Related News
Pasar Gonjang-Ganjing, BEI Kosongkan Daftar Short Selling di November
BEI Tegaskan Perhitungan Indeks dan Market Cap Tetap Utuh
MSCI–SWF Singapura Mencuat di Balik Ancaman Downgrade RI, BEI Tanggapi
OJK Hukum 2 Raksasa Asing di Balik IPO BREN & CUAN, Denda Capai Rp600M
Sales dari 8 Perusahaan Sekuritas Terseret Kasus DSSA, Ini Sanksi OJK
OJK Sanksi Tegas 38 Pihak Terkait 11 Emiten, Denda Triliun Rupiah





