EmitenNews.com - Kesepakatan gencatan senjata AS-Iran yang juga berdampak terhadap dibukanya Selat Hormuz dua pekan ini dinilai menjadi sentimen positif bagi pasar global. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menyebut kondisi tidak terduga ini berdampak langsung terhadap penurunan harga minyak dunia serta pelemahan indeks dolar AS.

“Dengan dibukanya Selat Hormuz selama dua pekan, ini menjadi angin segar bagi pasar global. Harga minyak langsung turun tajam, indeks dolar melemah, dan rupiah ikut menguat hampir 100 poin hari ini,” ujar Ibrahim, Rabu (8/4/2026).

Momentum ini, lanjut Ibrahim, dapat dimanfaatkan oleh negara-negara produsen untuk kembali meningkatkan aktivitas ekspor minyak melalui jalur strategis tersebut. Dalam jangka pendek, kondisi ini juga dinilai mampu meredakan volatilitas harga komoditas energi yang sempat melonjak akibat tensi geopolitik.

Di sisi lain, kata Ibrahim, harga emas dunia juga berpotensi mengalami tren kenaikan dan mendekati level psikologis baru.

“Target harga emas dunia bisa mendekati 5.000, sementara logam mulia di dalam negeri berpotensi menuju Rp3 juta per gram,” kata Ibrahim.

Sementara itu, dari sisi nilai tukar, rupiah diperkirakan akan menguat dalam beberap pekan ke depan. Ibrahim juga memperkirakan level Rp17.120 per dolar AS menjadi batas atas yang berpotensi tertahan seiring masuknya sentimen positif ke pasar.

“Dalam dua minggu ke depan, rupiah berpotensi menguat cukup signifikan,” tutup Ibrahim.