Gencatan Senjata AS-Iran, Bagaimana Dampak ke IHSG dan Rupiah?
Potret papan perdagangan bursa di gedung BEI. Foto: EmitenNews/Rifki
EmitenNews.com - Sentimen positif menyelimuti pasar keuangan global dan domestik setelah AS-Iran bersepakat melakukan gencatan senjata selama dua pekan.
Senior Technical Analyst, Nafan Aji Gusta, menilai kondisi ini diperkirakan memberi angin segar bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah tren konsolidasi bearish yang masih berlangsung.
“Seharusnya market bisa merespons euforia, ya, meskipun tren IHSG saat ini masih dalam fase bearish consolidation,” ujar Nafan dalam keterangannya kepada emitennews, Rabu (8/4/2026).
Selain faktor geopolitik, lanjut Nafan, sentimen positif juga datang dari lembaga indeks global FTSE Russel yang mempertahankan status pasar modal Indonesia sebagai secondary emerging market dalam hasil Equity Country Classification Review per 7 April 2026.
Keputusan itu dinilai krusial karena Indonesia terhindar dari potensi tekanan jual besar-besaran oleh investor pasif global. Di sisi lain, FTSE juga menegaskan akan terus memantau perkembangan reformasi pasar modal Indonesia hingga pembaruan berikutnya sebelum Mei 2026.
Dari sisi domestik, tambah Nafan, pelaku pasar juga menantikan rilis data cadangan devisa Indonesia per Maret 2026 yang diproyeksikan naik menjadi sekitar USD164 miliar, dari sebelumnya USD151,9 miliar pada Februari 2026.
“Di sampng itu, cadangan devisa yang kuat memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang sebelumnya sempat tertekan hingga menyentuh level 17.105 per dolar AS,” tambah Nafan.
Sementara itu, riset dari PT Stockbit Sekuritas Digital mencatat bahwa gencatan senjata turut memicu pergerakan signifikan di pasar global. Harga minyak mentah Brent dan WTI masing-masing anjlok hingga 16 persen dan 19 persen, menjadi penurunan harian terbesar sejak Perang Teluk 1991.
Di sisi lain, harga emas justru menguat sekitar 2,5 persen, sementara bursa saham global mencatatkan reli dengan kenaikan pada indeks futures utama seperti S&P 500, Dow Jones, dan Nasdaq.
Stockbit menilai kombinasi penurunan harga minyak dan kepastian status Indonesia di FTSE berpotensi mendorong aliran dana asing (foreign inflow) ke saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan.
“Kendati demikian, tidak semua sektor diuntungkan. Saham-saham energi, khususnya yang bergerak di sektor migas dan batu bara, berpotensi mengalami tekanan seiring penurunan harga minyak global,” tulis Stockbit dalam risetnya.
Stockbit Sekuritas juga mengimbau pelaku pasar tetap waspada, kendati gencatan senjata telah disepakati AS-Iran, sebab hal itu bersifat sementara.
Beberapa faktor yang dapat dicermati pasar di antaranya hasil negosiasi lanjutan di Islamabad, realisasi pembukaan Selat Hormuz, serta pembaruan dari lembaga indeks global lainnya seperti MSCI dan FTSE dalam beberapa bulan mendatang.
“Dengan berbagai katalis itu, pergerakan IHSG dalam jangka pendek diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan arus modal asing, di tengah upaya pasar mencari keseimbangan baru,” tutup Stockbit. (*)
Related News
Ekspor Industri Pulp dan Kertas 2025 Tembus USD8 Miliar
IHSG Ngebut 3 Persen ke 7.180, Dua Sentimen Besar Ini Jadi Picu
Perang Rehat, IHSG Susuri Level 7.115
Awas, IHSG Hari Ini Masih Rawan Koreksi
Tekanan Jual Belum Reda, IHSG Turun Tipis 0,26 Persen
Momentum, UNTD Siapkan Dana Ekspansi Rp400 MiliarĀ





