Harga Minyak Anjlok, Aset Safe-Haven Berfluktuasi Tajam
:
0
Kabar dimulainya kembali pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu pergerakan tajam di pasar keuangan global.(Foto: Emtrade)
EmitenNews.com - Kabar dimulainya kembali pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu pergerakan tajam di pasar keuangan global. Laporan bahwa Pakistan memfasilitasi dialog kedua negara langsung menghentikan tren kenaikan harga minyak yang telah berlangsung selama lima hari berturut-turut.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), seperti dilaporkan Biggo Finance sempat anjlok hingga 5 persen ke level terendah USD 88,11 per barel dalam perdagangan harian. WTI kemudian stabil dengan penurunan 2,05 persen di level USD 90,89 per barel, meski tetap mencatat kenaikan mingguan di atas 10 persen. Sementara itu, minyak mentah Brent ditutup melemah 1,85 persen menuju level USD 93,16 per barel.
Di pasar logam mulia, investor masih mencermati perkembangan situasi geopolitik Timur Tengah serta arah kebijakan moneter Bank Sentral AS, The Federal Reserve. Harga emas spot sempat menyentuh level USD 4.080 per ons sebelum akhirnya ditutup naik tipis 0,11 persen pada USD 4.053,17 per ons. Perak spot turut menguat 0,85 persen ke posisi USD 58,19 per ons.
Bursa saham AS mencatatkan pergerakan bervariasi. Indeks Dow Jones menguat 0,46 persen dan S&P 500 naik tipis 0,05 persen. Sebaliknya, Nasdaq melemah 0,64 persen akibat tekanan di sektor teknologi.
Indeks Semikonduktor Philadelphia anjlok 4,25 persen, dipicu merosotnya saham produsen chip seperti SanDisk yang turun 10,79 persen, SK Hynix turun 8,81 persen, Intel merosot 7,89 persen, dan Micron Technology terkoreksi 6,99 persen. Namun, saham IBM dan Apple tetap menguat masing-masing 3,64 persen dan 3,53 persen.
Di pasar keuangan lainnya, Indeks Dolar AS ditutup menguat tipis 0,025 persen ke level 101,47. Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun berada di posisi 4,687 persen, sedangkan tenor 2 tahun berada di level 4,342 persen.
Fluktuasi pasar global ini berpotensi memberikan dampak langsung bagi perekonomian Indonesia. Penurunan harga minyak dunia dapat meredakan tekanan beban subsidi energi pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun, penguatan dolar AS dan volatilitas harga komoditas global dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar Rupiah serta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di pasar domestik.(*)
Related News
Racik Strategi Investasi dengan Teknologi Digital, Cek Penjelasannya
Inflasi AS melandai ke 3,4%, Redam The Fed Naikkan Suku Bunga
Bittime Nilai Minat RWA Meningkat, Ondo Finance Beberkan Pendorongnya
Emas Antam dan Spot Dunia Turun Jelang Data Inflasi AS
Sektor Teknologi Melesat, Saham Korea dan China Terangkat
Investor Tunggu Rilis Inflasi AS, Emas Bertahan di USD4.370





