Harga Minyak Brent Tembus USD 100, Bursa Saham AS Ikut Anjlok
:
0
Harga minyak mentah global menembus angka USD 100 per barel pada perdagangan hari Kamis seiring meningkatnya konflik di Timur Tengah. (Foto: Magnific)
EmitenNews.com - Harga minyak mentah global menembus angka USD 100 per barel pada perdagangan hari Kamis seiring meningkatnya konflik di Timur Tengah. Berdasarkan data dari FactSet yang dilansir oleh CBS News, minyak mentah jenis Brent menguat USD 5,76 atau 6,1 persen menjadi USD 100,69 per barel. Ini merupakan kali pertama harga minyak global berada di atas level USD 100 sejak 22 Mei.
Lonjakan harga energi ini dipicu oleh aksi pemberontak Houthi di Yaman yang didukung Iran setelah mereka mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di Laut Merah pada hari Rabu.
Menurut data Oxford Economics, insiden ini mengancam jalur pelayaran di Selat Bab el-Mandeb yang mengangkut sekitar 7 persen pasokan minyak dunia. Selain itu, eskalasi militer makin memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan selama 12 malam berturut-turut terhadap target di seluruh Iran.
Kenaikan harga minyak langsung berdampak pada pasar modal global. Indeks S&P 500 anjlok 91 poin atau 1,2 persen ke level 7.408 pada hari Kamis, sementara Dow Jones Industrial Average merosot 507 poin atau 1 persen menjadi 51.712. Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turut melemah 2,2 persen.
Di sisi lain, harga bensin di AS berdasarkan data AAA naik dari USD 3,94 menjadi USD 4,09 per galon, serta imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level 4,71 persen.
Kondisi ini mempersulit prospek kebijakan suku bunga The Federal Reserve jelang keputusan pada 29 Juli mendatang. Data CME FedWatch menunjukkan probabilitas The Fed menaikkan suku bunga acuan melonjak menjadi 36 persen, naik tajam dibandingkan pekan lalu yang berada di kisaran 11 persen.
"Penurunan suku bunga yang diharapkan investor untuk akhir tahun ini terlihat jauh kurang pasti saat ini dibandingkan seminggu yang lalu, dan saat itu pun situasinya masih belum pasti," kata Nigel Green, CEO perusahaan investasi deVere Group, dalam rilis tertulisnya.
Bagi Indonesia, melambungnya harga minyak mentah dunia hingga melampaui USD 100 per barel menjadi perhatian krusial. Perkembangan ini berpotensi membengkakkan beban subsidi BBM dalam negeri, menekan nilai tukar Rupiah, serta memicu kenaikan inflasi dari sektor energi dan logistik nasional.(*)
Related News
Yen Anjlok Terendah 40 Tahun, AS Desak BOJ Naikkan Suku Bunga
Inflasi Jepang Rekor Tertinggi 6 Bulan Usai Subsidi Energi Dipangkas
AS Kenakan Indonesia Tarif Tambahan 10%, Masuk Daftar 60 Negara
AS Marah Uni Eropa Denda Google Rp18 Triliun
Timur Tengah Mencekam, Harga Minyak Lewati 100 Dolar per Barel
Forum Bisnis RI-China, Pemerintah Buka Peluang Investasi Data Center





