EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia naik melampaui 9% dalam sepekan terakhir dan diperdagangkan di level USD91,2 per barel pada Jumat. Kenaikan ini mencatatkan kinerja mingguan terkuat sejak pertengahan Juli akibat eskalasi konflik militer di Timur Tengah yang menekan pasokan energi global.

Eskalasi berlanjut setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) saling meluncurkan serangan rudal pekan ini. Menteri Pertahanan Israel mengancam akan melakukan serangan "melumpuhkan" terhadap infrastruktur Iran, termasuk fasilitas energi. Di sisi lain, Uni Eropa secara resmi bergabung dalam kampanye sanksi yang dipimpin AS terhadap Iran, sementara Korea Selatan mempertimbangkan peran militer.

Data Trading Economics mencatat tekanan harga minyak diperparah oleh sikap tegas AS terkait jalur perdagangan vital di Selat Hormuz.

Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan posisi resmi Washington terkait negosiasi konflik tersebut. "AS tidak berencana untuk mengadakan pembicaraan damai dengan Iran sampai negara itu berhenti menyerang kapal-kapal di Hormuz," tegas Vance.

Iran sendiri memberi sinyal untuk mempertahankan respons garis keras terhadap serangan AS terbaru. Kendati demikian, laju kenaikan harga dapat kehilangan momentum jika pengiriman kapal melalui Selat Hormuz kembali meningkat. Laporan ekspor minyak Irak menunjukkan rata-rata pengiriman sebesar 2,35 juta barel per hari pada Agustus, yang sebagian besar disalurkan melalui jalur selatan.

Lonjakan harga minyak mentah ke level USD91,2 per barel ini membawa implikasi langsung bagi perekonomian Indonesia sebagai negara pengimpor bersih (net importer) minyak bumi. Kenaikan harga minyak mentah global berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Jika harga minyak terus bertahan tinggi, pemerintah Indonesia dihadapkan pada pilihan sulit antara menambah alokasi subsidi atau menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) domestik yang berisiko memicu inflasi tinggi.(*)