EmitenNews.com - Keterjangkauan akses masyarakat terhadap daging ruminansia (sapi/kerbau), terutama dalam menyambut momen Ramadan dan Idulfitri mendatang, telah dipastikan pemerintah dengan bersepakat pada harga sapi hidup di angka Rp 55.000 per kilogram (kg). Ini diterapkan selama Ramadan sampai Idulfitri agar pedagang daging ruminansia dapat memberikan harga yang baik dan wajar ke masyarakat.

Apabila ada pelaku usaha penggemukan sapi/kerbau (feedlotter) yang melepas ke pelaku usaha potong hewan dengan harga melebihi Rp 55.000 per kg, dipastikan pemerintah akan melakukan tindakan tegas. Melalui kesepakatan harga sapi hidup ini, diharapkan akan berimplikasi positif pada Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen, sehingga daya beli masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri terus terjaga.

Adapun HAP tingkat produsen dan HAP tingkat konsumen untuk daging ruminansia telah diatur dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 12 Tahun 2024. HAP tingkat produsen sapi hidup ditetapkan di Rp 56.000 sampai Rp 58.000 per kg. Sementara HAP tingkat konsumen untuk daging sapi segar/chilled paha depan Rp 130.000 per kg, segar paha belakang Rp 140.000 per kg, paha depan beku Rp 105.000 per kg, dan daging kerbau beku Rp 80.000 per kg.

"Kami cek, masih di bawah HAP. Rp 55.000 per kilogram. HAP-nya Rp 56.000 per kilogram. Kalau ada aku temukan di antara (pemegang kuota impor sapi/kerbau bakalan) 700 ribu ekor, ini perusahaannya 80 perusahaan, aku temukan (melanggar HAP), aku cabut izinnya," tegas Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman usai memimpin Rapat Koordinasi Jelang Ramadan dan Idulfitri di Jakarta pada Kamis (22/1/2026).

"Dan dia, selama kami masih menteri, tidak akan mungkin dia masuk lagi, (untuk) bisa impor. Kita ini sudah berbaik melayani, kami ini pelayan rakyat. Kami melayani semua. Melayani konsumen, melayani produsen, melayani semua. Ini perintah Bapak Presiden. Stabilkan harga. Titik," ungkap Amran.

Dalam Proyeksi Neraca Pangan Daging Sapi/Kerbau per 6 Januari 2026, proyeksi ketersediaan stok secara nasional sampai Idulfitri di Maret mendatang masih mencukupi. Stok awal tahun 2026 berada di 41,7 ribu ton. Kemudian produksi dalam negeri ditambah hasil potong sapi/kerbau bakalan impor selama 3 bulan nanti dapat mencapai 125,2 ribu ton. Sementara estimasi realisasi impor Januari sampai Maret 18,5 ribu ton.

Dengan itu, total ketersediaan Januari sampai Maret dapat mencapai 185,4 ribu ton, sedangkan proyeksi kebutuhan konsumsi daging sapi/kerbau secara nasional untuk periode yang sama berada di 179 ribu ton. Ini berarti masih ada surplus ketersediaan terhadap konsumsi yang diproyeksikan di angka 6,3 ribu ton.

Terkait kondisi harga daging sapi sampai minggu ketiga Januari 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan mulai ada peningkatan jumlah daerah yang mengalami penurunan harga di tingkat konsumen. Pada awal Januari 2026 ada 13 daerah yang mengalami penurunan harga daging sapi, sedangkan sampai minggu ketiga Januari menjadi 14 daerah.(*)