EmitenNews.com - Perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan tersengat sentimen yang cenderung positif meskipun dibayangi risiko konsolidasi, Rabu (2/9).

Sebelumnya, IHSG berhasil menguat signifikan 1,14% ke level 6.599,94, bahkan mampu bertahan di tengah pelemahan mayoritas bursa Asia, pada Selasa, 1 September 2026.

Penguatan tersebut juga didukung oleh kembalinya aliran dana asing, dengan investor asing mencatat net buy sekitar Rp1,76 triliun, terutama ke BBRI, BBCA, BUMI, BMRI, dan CUAN.

Nafan menjelaskan, secara teknikal, pergerakan IHSG telah berhasil menciptakan higher high baru sehubungan dengan struktur bullish yang masih berlaku.

"Di sisi lain, MAs20&60 berada dalam kondisi bullish crossover sementara Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif. Meskipun demikian, volume mulai mengalami penurunan," ujar Nafan, Rabu (2/9.

Dari sisi kebijakan moneter, pasar kini semakin mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada September, setelah pernyataan hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole.

Probabilitas kenaikan 25 bps bahkan telah meningkat ke kisaran 68% berdasarkan FedWatch Tool, sementara data data US JOLTS menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif resilien meskipun sedikit lebih lemah dari ekspektasi.

"Artinya, market menghadapi kombinasi yang kurang ideal berupa inflasi berpotensi kembali meningkat, yield tinggi, dan kebijakan moneter yang lebih ketat," tutur Nafan.

Dampaknya terhadap IHSG, sentimen eksternal tersebut cenderung menjadi headwind pada perdagangan berikutnya, apalagi emiten dengan valuasi tinggi karena kenaikan yield AS dapat mendorong investor global mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Namun, tekanan tersebut berpotensi diimbangi oleh saham sektor energi dan komoditas apabila harga minyak serta komoditas lainnya tetap tinggi.