EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup melemah 3,64 persen menjadi 4.996, setelah sempat tertekan hingga level 4.907. Otoritas mengubah batas ARB menjadi 7 persen. Tekanan jual masih berlangsung, namun beberapa saham mulai bangkit dari level ARB, setelah beberapa emiten mengumumkan buyback saham.

Secara teknikal, tekanan pada IHSG masih berpotensi berlanjut dengan support 4.800-4.900, terutama jika tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar masih terjadi. Sebaliknya jika saham-saham dengan kapitalisasi besar mulai rebound, maka IHSG berpotensi untuk menguat di atas level 5.000 pada perdagangan Selasa (20/10).

Langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk meningkatkan transparansi, dan integritas pasar melalui penyesuaian saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC), keterbukaan informasi afiliasi pemegang saham diharapkan dapat mendukung pemenuhan standar MSCI, meski bukan jaminan MSCI akan merespons positif langkah tersebut.

Kebijakan tersebut bertujuan membuat pergerakan IHSG mencerminkan kondisi pasar lebih wajar. Pada pelaksanaannya IHSG berpotensi mengalami penyesuaian dalam jangka pendek, mengingat beberapa saham HSC memiliki bobot cukup besar. Proses penyesuaian itu, dapat meningkatkan volatilitas pasar, namun diharap mendukung pembentukan indeks lebih mencerminkan kondisi pasar, dan likuiditas saham secara representatif.

Sementara itu, Fitch Ratings menilai gagal bayar PT Pos Indonesia lebih mencerminkan permasalahan internal perusahaan, dan tidak mengindikasikan pelemahan dukungan pemerintah terhadap BUMN di bawah Danantara. Namun, kejadian itu berpotensi meningkatkan persepsi risiko kredit pada sebagian BUMN dalam jangka pendek.

Dengan demikian, investor akan mencermati kemampuan pembayaran utang, dan konsistensi dukungan pemerintah terhadap perusahaan-perusahaan tersebut. Menilik data itu, Phintraco Sekuritas menjagokan saham Dian Swastatika (DSSA), Adaro Andalan (AADI), United Tractors (UNTR), Indo Tambangraya (ITMG), dan Vale (INCO). (*)