IHSG Menguat, Pengamat Ingatkan Risiko Global
Potret papan perdagangan bursa di gedung BEI. Foto: EmitenNews/Rifki
EmitenNews.com - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya ditutup menguat pada perdagangan Rabu (8/4/2026), ke level Rp7.279,21 naik 308,18 poin atau 4,42 persen.
Akademisi dan investor saham, Erman Sumirat, menilai masih terjadi uncertainty imbas ketegangan geopolitik global, meskipun IHSG menunjukkan penguatan signifikan.
Dari sisi geopolitik global misalnya, kondisi pasar sangat dipengaruhi faktor perang antara AS-Iran yang sulit diprediksi.
“Bahkan sekarang EBITDA bukan lagi untuk mengukur metrik keuangan, tapi juga ada jokes-nya Earning Before Iran Tarif and Donald trump Announcement,” kata Erman kepada emitennews, Kamis pagi (9/4/2026).
Selain itu, kondisi ekonomi Indonesia juga turut mempengaruhi, khususnya potensi melebarnya defisit APBN. Sebab, menurut Erman, dari sisi moneter, mulai dari kurs, cadangan devisa, hingga potensi inflasi juga patut dicermati pasar.
Erman juga menambahkan, perbaikan fundamental, termasuk kinerja perusahaan, perbaikan ekonomi makro, perkembangan situasi geopolitik, semuanya secara simultan mempengaruhi indeks saat ini.
“Hal itu sangat berkorelasi, dan dapat mempengaruhi psikologi pasar, seperti apakah dana asing masuk atau keluar, sikap investor domestik, termasuk aturan yang dinilai rigid, tidak fleksibel, bisa meningkatkan uncertainty,” tutur Erman.
Di tengah fluktuasi indeks, Erman juga menekankan kepada investor tidak terpengaruh atau over react dengan saham-saham yang menghijau. Investor juga perlu mencermati kinerja tahunan perusahaan, khususnya laba perusahaan.
Selain itu, tambah Erman, volatilitas ini harus bisa dilihat investor sebagai tantangan dalam jangka panjang. Sehingga, arah berinvestasi mampu menambah keuangan seseorang dalam jangka panjang, sekaligus menjadi alat melawan inflasi.
Di sisi lain, Erman mengingatkan investor perlu adanya profile balanced investment, sehingga tidak terfokus pada salah satu instrumen investasi, seperti saham.
“Tentunya investor perlu mencermati tren 10 tahunan kinerja perusahaan, siklusnya growing tidak, ada utang tidak, cashflow-nya bagaimana, terdapat masalah tidak di perusahaan. Itu juga berpengaruh dalam fluktuasi harga saham,” tutur Erman. (*)
Related News
IHSG Dibuka Lunglai, Menukik 1 Persen ke 7.205
Mengekor Wall Street, IHSG Kian Menyala
IHSG Rebound 4,42 Persen, Ada Potensi Dead Cat Bounce
IHSG Meroket Naik 4,42 Persen, Mejeng di Top 7 Global & Top 4 Asia!
IHSG Melejit 4,42 Persen, Balik ke Atas 7.200
Kesempatan Jadi Pemegang Saham BEI, 10 Kursi AB Dilelang!





