IHSG Ngebut 3 Persen ke 7.180, Dua Sentimen Besar Ini Jadi Picu
:
0
Lantai perdagangan Bursa Efek Indonesia.
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melesat 2,75 persen atau naik 191 poin ke level 7.162,41 pada awal perdagangan pagi ini. Penguatan tajam ini terjadi di tengah sentimen global dan domestik yang sama-sama positif.
Sebanyak 351 saham tercatat menguat, 69 melemah, dan 210 stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp5,55 triliun dengan volume 846 juta saham dalam 42.676 kali transaksi. Kapitalisasi pasar turut meningkat menjadi Rp12.573 triliun.
Dalam 25 menit pertama perdagangan, IHSG tepat menyentuh kenaikan 3 persen setara 290,14 poin di level 7.180,17.
Dalam riset Stockbit Sekuritas pada Rabu (8/4/2026) menyajikan data penguatan IHSG ditopang dua katalis utama yakni, penurunan tajam harga minyak dunia pasca kesepakatan gencatan senjata 2 pekan lamanya antara Amerika Serikat dan Iran, serta keputusan FTSE Russell yang mempertahankan status Indonesia sebagai secondary emerging market.
Adapun, harga minyak Brent anjlok sekitar 16 persen ke kisaran USD93 per barel, sementara WTI turun 19 persen ke sekitar USD92 per barel, menjadi penurunan harian terdalam sejak Perang Teluk 1991. Di sisi lain, harga emas justru naik sekitar 2,5 persen, atas dinamika pasar pasca de-eskalasi konflik geopolitik.
Pasar global merespons positif perkembangan ini, dengan futures indeks saham utama S&P 500 menguat 2,5 persen, Dow Jones melonjak hingga 1.000 poin, dan Nasdaq futures naik 3 persen. Bursa Asia juga mengikuti tren penguatan, dengan Nikkei futures mengarah naik sekitar 3 persen.
Kombinasi penurunan harga energi dan kepastian status indeks global tersebut dinilai menurunkan risk premium Indonesia.Sektor energi berpotensi tertekan.
“Emiten upstream migas (MEDC, ENRG) dan batu bara (AADI, ITMG) dapat menghadapi tekanan seiring penurunan tajam harga minyak,” tulis Tim Riset Stockbit Sekuritas.
Hal ini sekaligus membuka peluang aliran dana asing ke saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan dan konglomerasi.
“Saham-saham yang berpotensi diuntungkan termasuk BBCA, BBRI, BMRI, dan TLKM. Saham konglomerasi berpotensi ikut rally seiring meningkatnya sentimen risk-on pasca gencatan senjata dan konfirmasi FTSE,” tambahnya.
Related News
RI-UE Bebaskan Tarif 98% Pos Dagang, Emiten Sektor ini Siap Panen
RI Kejar Target EBT 21%, Jerman Kucurkan 2,3 Miliar Euro
PDB Halal Rp5.000 T, RI Kalah Agresif dari Malaysia
IHSG Loyo 0,37 Persen, PICO Justru Pimpin Top Gainers, Simak!
IHSG Berbalik Merah, BUMI Rajai Transaksi Meski Harga Turun
IHSG Koreksi 0,69 Persen ke 6.480 di Sesi Siang, Sektor Kesehatan Drop





