EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahan hingga akhir perdagangan sesi pertama, Rabu (22/4/2026), seiring tekanan dari saham-saham berkapitalisasi besar di tengah sentimen global yang turut membayangi indeks.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia, IHSG turun 15,017 poin atau 0,2 persen ke level 7.544,363 pada pukul 12.00 WIB. Total volume transaksi mencapai 26,58 miliar saham dengan nilai Rp9,25 triliun. Sebanyak 253 saham turun, 402 saham naik, dan 163 saham stagnan.

Pergerakan indeks cenderung fluktuatif sejak awal perdagangan, namun tekanan jual masih mendominasi hingga penutupan sesi I. Saham Dian Swastatika Sentosa Tbk turun tajam 10,78 persen ke Rp2.480 dan Barito Renewables Energy Tbk melemah 7,53 persen ke Rp5.525, menjadi pemberat utama indeks.

Kemudian, sejumlah saham blue chip mampu menguat, seperti Astra International Tbk yang naik 3,95 persen ke Rp6.575 serta Bank Mandiri (Persero) Tbk yang menguat 1,1 persen.

Secara sektoral, pergerakan indeks didominasi penguatan tipis di sebagian sektor, namun tekanan datang dari sektor energi dan teknologi. IDX Basic naik 0,01 persen, IDX Cyclical naik 0,17 persen, IDX Energy turun 0,60 persen, IDX Finance naik 0,99 persen, IDX Health turun 0,08 persen, IDX Industry naik 0,79 persen, IDX Infra naik 0,06 persen, IDX Non-Cyclical naik 0,15 persen, IDX Property naik 0,21 persen, IDX Techno turun 0,26 persen, dan IDX Transportasi naik 3,98 persen.

Saham-saham yang masuk jajaran penguat utama (leaders) antara lain:

Astra International Tbk di Rp6.575 (+3,95 persen)

Indo Tambangraya Megah Tbk di Rp27.075 (+3,14 persen)

Bukit Asam Tbk di Rp2.980 (+2,40 persen)

Sementara saham yang menjadi penekan (laggards):

Dian Swastatika Sentosa Tbk di Rp2.480 (-10,78 persen)

Barito Renewables Energy Tbk di Rp5.525 (-7,53 persen)

Barito Pacific Tbk di Rp2.250 (-2,17 persen)

Sentimen global masih membayangi pergerakan pasar, terutama ketidakpastian terkait perkembangan negosiasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang membuat bursa Asia bergerak bervariasi.

Kondisi ini membuat IHSG cenderung bergerak terbatas dengan tekanan selektif, terutama pada saham-saham tertentu yang memiliki bobot besar terhadap indeks.