EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup melemah 0,06 persen menjadi 6.595. Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas MA5, dan histogram MACD bertahan di area positif, namun terjadi kenaikan volume jual.

Oleh karena itu, IHSG akan bergerak sideways pada kisaran 6.550-6.650. Namun, jika breakdown dari level 6.550, diperkirakan akan uji level di 6.500. Dengan tren kenaikan yield obligasi pemerintah negara-negara besar mengantisipasi kenaikan suku bunga di tengah potensi ledakan inflasi, investor global cenderung memasuki mode risk-off.

Di mana, pelaku pasar akan cenderung mengalihkan aset ke alternatif investasi dianggap lebih rendah risiko. Akibatnya, investor berpotensi keluar dari emerging market. Investor lebih memilih investasi pada US-Treasury dengan imbal hasil menarik dengan risiko lebih rendah.

Kondisi tersebut berpotensi berdampak terhadap pelemahan Rupiah, kenaikan yield SBN, dan peningkatan biaya modal perusahaan. Namun, prospek pertumbuhan ekonomi domestik, kebijakan BI, kenaikan harga komoditas, dan aksi korporasi emiten diharap dapat mengimbangi tekanan global.

Pemerintah bersama XI DPR menyepakati asumsi dasar ekonomi makro dalam RAPBN 2027. Dalam RAPBN 2027 ditetapkan target pertumbuhan 2027 sebesar 6 persen, inflasi 2,5 persen, Rupiah Rp17.500 per USD, dan yield SBN 10 tahun 6,9 persen. Arah belanja pemerintah pro pada investasi, infrastruktur, hilirisasi, pangan, energi, pendidikan, dan kesehatan.

Namun, investor perlu mencermati kredibilitas fiskal dalam mengelola defisit anggaran. Menilik data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan investor mengoleksi saham London Sumatera (LSIP), Salim Ivomas (SIMP), Buana Lintas Lautan (BULL), Mitra Keluarga (MIKA), dan Dian Swastatika (DSSA). (*)