Pasar Menggeliat, Bungkus Saham-saham Berikut
:
0
Indeks harga saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada perdagangan sesi 2, Jumat 26 Juni 2026. Photo/Rizki EmitenNews.com
EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kemarin berhasil ditutup menguat. Itu seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) mereda. Ya, sebelumnya indeks dalam beberapa waktu terakhir mengalami tekanan jual akibat lonjakan imbal hasil obligasi.
Lompatan yield obligasi itu, dipicu kekhawatiran investor terhadap potensi kenaikan inflasi akibat ledakan harga minyak mentah di tengah eskalasi konflik geopolitik Timur Tengah. Setelah sempat naik menjadi 4,818 persen, level tertinggi sejak November 2023, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun akhirnya ditutup turun lebih dari 1 bps menjadi 4,78 persen.
Imbal hasil obligasi dengan tenor 30 tahun juga turun dengan besaran setara menjadi 5,259 persen, sedang untuk obligasi jangka pendek bertenor 2 tahun susut lebih dari 2 bps menjadi 4,369 persen. Penguatan indeks bursa Wall Street, dan lonjakan harga beberapa komoditas seperti minyak mentah, nikel, emas, dan batu bara diprediksi menjadi sentimen positif pasar.
So, IHSG diprediksi bergerak menguat. Sepanjang perdagangan hari ini, Kamis, 3 September 2026, IHSG akan menyusuri kisaran support 6.545-6.495, dan resistance 6.645-6.700. Berdasar data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham ERAA, JPFA, ESSA, PSAB, ARCI, dan HRUM. (*)
Related News
Bursa Pagi Membara 0,56 Persen di 6.632, IHSG Uji Resistance 6.635
IHSG Tertekan, Pemodal Eksodus dari Emerging Market
IHSG Masih Berpotensi Menguat Lagi, Ini Proyeksinya
Ajaib Belum Ada Rencana IPO, Intip Alasannya
IHSG Melemah Tipis Tinggalkan 6.600, Saham Big Banks Paling Diburu
Awas! Ini 5 Modus Kejahatan Keuangan Terbaru Bikin Rekening Jebol





