EmitenNews.com - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) telah resmi menerbitkan indeks berupa efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) berbasis Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) bernama Indonesia ESG Bond Index. Indeks ini terdiri dari 69 konstituen penerbit dengan kategori peringkat AAA dan BBB-.

"Ada 37 untuk seri yang biasa, kalau yang premium ada 32. Obligasinya masuk kategori Triple AAA dan Triple BBB Minus, yang masuk kategori itu yang kami masukkan di indeks ini," jelas Direktur Utama PT Penilai Harga Efek Indonesia, M. Kadhafi Mukrom saat doorstep dengan media di Gedung BEI, Jakarta pada Jumat (6/11/2026).

Kadhafi mencermati, indeks ESG tersebut akan menjadi panduan (benchmark) untuk menilai kinerja portofolio obligasi dan sukuk berbasis ESG. Selain itu, tren penerbitan surat utang korporasi berbasis obligasi dan sukuk diperkirakan akan bertumbuh hingga tahun 2027.

"Kami melihat prospek ke depan akan terus meningkat. Kalau kita lihat dari sisi likuiditas, frekuensi transaksi di pasar obligasi terus mengalami pertumbuhan. Ini salah satu indikator ke depan bahwa pasar obligasi kita akan terus memiliki prospek yang baik," terang Kadhafi.

Sementara itu, Direktur Pengembangan PT BEI Iding Pardi menilai pembiayaan hijau menjadi jembatan untuk mentransformasi sektor riil menuju ekonomi rendah karbon, dengan mempertemukan kebutuhan modal industri dan likuiditas investor institusi.

"Perusahaan membutuhkan investasi untuk meningkatkan efisiensi energi, menggunakan teknologi yang bersih, maupun memperluas manfaat sosial, sementara investor membutuhkan investasi yang kredibel dan pilihan instrumen yang beragam," tutur Iding.

Iding menyebut ekosistem pasar modal kian matang, ditandai 85 persen perusahaan tercatat telah menyampaikan paparan keberlanjutan dan lebih dari 51 perusahaan dalam Indeks IDX-30 memiliki komitmen ESG.

"Hingga September 2026 dana kelolaan ESG Fund yang mencakup ETF mencapai sekitar Rp5,85 triliun, akumulasi penerbitan obligasi dan sukuk keberlanjutan sejak 2018 menembus Rp89,46 triliun, dan Bursa Efek Indonesia akan memberikan green equity designation pada tiga perusahaan yang di dalamnya termasuk kategori transisi," katanya.

Kadhafi berlanjut menjabarkan, perusahaan-perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan terus menerbitkan surat utang korporasi, baik obligasi maupun sukuk. Hal ini disebabkan, korporasi selaku penerbit surat utang membutuhkan pendanaan di luar perbankan.

Meski demikian, prospek penerbitan surat utang tersebut masih dibayangi oleh kenaikan yield dan suku bunga acuan yang kian meninggi. Dari sisi perekonomian global, Direktur PT Penilai Harga Efek Indonesia, Djoko Saptono mencermati bahwa suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) meningkat, hal ini membuat biaya dana (cost of fund) juga meningkat.