EmitenNews.com - Kebijakan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate 100 basis poin membuahkan hasil. Sepanjang Januari hingga 26 Juni 2026, aliran modal asing atau inflow ke portofolio Surat Berharga Negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia mencapai sekitar USD 9 miliar.

Hal itu disampaikan Deputi Gubernur BI Destri Damayanti dalam konferensi pers DPR-Pemerintah terkait kebijakan fiskal dan moneter, Senin (29/06). 

"Dalam satu bulan di bulan Juni ini telah terjadi inflow yang cukup signifikan. Sehingga secara year to date dari Januari hingga akhir Juni tanggal 26 yang lalu inflow yang masuk untuk di portfolio SBN dan SRBI kita itu sudah mencapai sekitar 9 miliar USD," ujar Destri dalam Konferensi pers yang dipimpin Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dan dihadiri anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu.

Menurut Destri masuknya dana asing ini mencerminkan meningkatnya confidence dari investor offshore. Kepercayaan tersebut juga diharapkan tercermin pada kepercayaan masyarakat di dalam negeri.

Kenaikan BI-Rate 100 bps dalam sebulan terakhir membuat suku bunga acuan kini berada di posisi 5,75%. Penyesuaian itu memicu repricing pada instrumen yang diterbitkan Bank Indonesia maupun pemerintah, yaitu SRBI dan SBN.

Selain jaga nilai tukar, BI juga fokus menjaga likuiditas pasar. Pada akhir Mei, ekspansi moneter yang dilakukan BI mencapai sekitar Rp600 triliun. Tujuannya agar tidak terjadi gejolak harga di pasar uang dan pasar valas.

Fiskal dan Kredit Tetap Ekspansif

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan kondisi fiskal nasional masih sangat terjaga. Defisit APBN hingga Mei tercatat 0,7% dan diperkirakan hingga akhir tahun tetap di bawah 3%.

"Pajak juga tumbuh dengan baik 19,1% dan juga dari sisi belanja juga masih di atas 30%," kata Juda.

Untuk mendukung penyaluran kredit, Pemerintah memperpanjang penempatan dana di perbankan sebesar Rp281 triliun hingga 31 Desember 2026. Ada tambahan Rp100 triliun sebagai dana siaga.