Investor Asing Obral Saham Chip, Indeks KOSPI Anjlok 3,14%
:
0
Indeks KOSPI Korea Selatan melesat turun 3,14 persen pada pembukaan perdagangan Senin 14 September 2026 hingga menembus ke bawah level psikologis 6.700.(Ilustrasi Foto: Magnific)
EmitenNews.com - Indeks KOSPI Korea Selatan melesat turun 3,14 persen pada pembukaan perdagangan Senin 14 September 2026 hingga menembus ke bawah level psikologis 6.700. Penurunan tajam ini didorong oleh aksi jual masif oleh investor asing pada saham-saham industri semikonduktor menyusul tingginya rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).
BigGo Finance mencatat KOSPI dibuka pada posisi 6.692,62. Tekanan terbesar datang dari aksi lepas portofolio secara serentak yang dilakukan oleh investor asing dan institusi.
Berdasarkan data Bursa Efek Korea, pada pukul 09.10, investor asing telah melakukan penjualan bersih sebesar 668,7 miliar won (sekitar USD497,8juta) dan institusi sebesar 226,6 miliar won (sekitar USD168,7juta).
Meski investor ritel berupaya menahan koreksi dengan melakukan pembelian bersih sebesar 849 miliar won (sekitar USD632,0juta), langkah tersebut tidak mampu menghentikan kejatuhan indeks.
Sektor semikonduktor berkapitalisasi besar menjadi penyumbang utama penurunan bursa. Saham Samsung Electronics merosot sekitar 3 persen, sementara SK Hynix terjerembap hingga 4 persen, dan SK Square anjlok 6 persen.
Sentimen negatif pasar terpicu oleh kenaikan Indeks Harga Konsumen (CPI) inti AS bulan Agustus sebesar 0,3 persen secara bulanan, melampaui konsensus pasar sebesar 0,2 persen. Data CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) sebesar 0,25 poin persentase pada pertemuan September langsung melonjak hingga 87 persen.
Selain isu suku bunga AS, pasar saham Korsel turut tertekan oleh spekulasi pengetatan kebijakan moneter dari Bank Sentral Jepang (BOJ) yang menguatkan nilai tukar yen. Kondisi ini diperberat oleh melonjaknya imbal hasil obligasi AS 10 tahun hingga 4,98 persen serta harga minyak mentah WTI yang bertahan di level USD100,05 per barel.
Ambruknya saham-saham teknologi dan industri chip di bursa Korsel ini memberi kewaspadaan bagi pasar keuangan Indonesia. Tekanan pada bursa kawasan Asia berpotensi menjalar ke Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), khususnya pada saham-saham berbasis teknologi dan manufaktur di dalam negeri.(*)
Related News
Inflasi Energi Melonjak, Harga Emas Tertahan 3 Pekan
1.822 Investor Cairkan Lebih Awal SBR014T2 Senilai Rp362,7 Miliar
Isu Keamanan AI dan Bunga Fed Pukul Bursa Saham AS
Pipa Utama Saudi Lumpuh, Harga Minyak Dunia Tembus USD108
Pefindo Tetapkan Rating Terbaru Waskita Karya (WSKT) idB/CreditWatch
Bank Bali Salurkan Kredit UMKM Rp14,15 Triliun, Tumbuh 14 Persen





