Investor Tergocek, BLI (WBSA) Ternyata Cuma Mantan Grup Sinarmas
Ilustrasi BSA Logistics, entitas berbeda dengan BSA Logistics Indonesia Tbk. (WBSA). Foto: Istimewa.
EmitenNews.com - BSA Logistics Indonesia Tbk. (WBSA) atau disingkat “BLI” yang namanya dikait-kaitkan dengan PT Bina Sinar Amity (BSA/BSA Logistics) yang berada di bawah naungan emiten Sinar Mas Multiartha (SMMA), ternyata memiliki perbedaan yang tegas, baik dari sisi kepemilikan maupun hubungan usaha.
Diketahui saat pendirian pada 19 Maret 2021, struktur awal pemegang saham BLI memang terdiri dari Tiga Beruang Kalifornia Pte. Ltd. (disingkat TBK) sebesar 70% atau 1.750 saham dan BSA (Entitas SMMA) sebesar 30% atau 750 saham, dengan total modal disetor Rp2,5 miliar.
Namun komposisi tersebut berubah pada 2022. TBK meningkatkan kepemilikan menjadi 92,50% atau 9.250 saham senilai Rp9,25 miliar, sementara kepemilikan grup Sinarmas yakni, BSA terdilusi menjadi 7,50% atau 750 saham. Selanjutnya, seluruh saham milik BSA dialihkan kepada PT Permata Gandaria Indah (PGI) senilai Rp750 juta, yang menandai keluarnya BSA dari struktur pemegang saham perseroan.
Berdasar keterangan prospektus WBSA dikutip Kamis (26/3/2026) Perseroan menegaskan hubungannya tersebut dengan entitas Sinar Mas (BSA Logistics beserta kedua anak usahanya PT Sinar Mas Jatimitra dan PT MSU) kini murni bersifat bisnis.
“Perseroan tidak memiliki hubungan afiliasi dengan BSA maupun MSU,” tulis manajemen dalam prospektus.
Meski tidak lagi menjadi pemegang saham, hubungan bisnis antara BLI dan BSA tetap berjalan dalam bentuk kemitraan operasional. Perseroan tercatat memberikan pinjaman kepada BSA dengan plafon mencapai Rp35 miliar dengan bunga 8% per tahun. Hingga 30 September 2025, saldo pinjaman tercatat sebesar Rp23,4 miliar dengan piutang bunga Rp808,5 juta, serta menghasilkan pendapatan bunga sebesar Rp1,18 miliar.
Selain itu, BLI juga menyewa lahan milik BSA seluas 7 hektare di kawasan Cakung, Jakarta Timur, dengan masa sewa hingga 2034 serta opsi perpanjangan 10 tahun. BSA juga berperan sebagai vendor dalam penyediaan layanan operasional seperti freight forwarding, pengurusan kepabeanan, hingga dukungan tenaga kerja.
Penegasan ini sejalan dengan pernyataan Presiden Direktur OCBC Sekuritas Indonesia, Betty Goenawan, yang dalam arsip data EmitenNews.com pada (26/1/2026) lalu memastikan bahwa IPO yang dibawa tahun ini tidak berasal dari kelompok konglomerasi besar manapun.
“Tidak ada nama dari konglomerasi besar. Semuanya middle cap. Yang sering diberitakan sebelumnya itu belum ada dalam pipeline kami saat ini,” ujarnya kala itu di awal tahun.
Adapun, sebagai catatan WBSA IPO dengan menerbitkan 1,8 miliar lembar saham baru yang setara 20,75 persen dari total lembar saham existing.
Memasang harga bookbuilding sekitar Rp150 - Rp170 per saham yang berarti total dana IPO yang dihimpun paling banyak sekitar Rp306 miliar. Penjamin Emisi Efek IPO ini ialah OCBC Sekuritas (TP) dan PT Semesta Indovest Sekuritas (MG).
Emiten ini dimiliki oleh Andree Susanto dan Edwin Wibowo sebagai Ultimate Beneficial Owner (UBO) melalui Tiga Beruang Kalifornia Ltd.
Lalu, PT Tiga Beruang Kalifornia inilah sosok entitas asing dari Singapura bernama Waresix, yang merupakan startup pergudangan dan logistik.
Related News
Pefindo Tetapkan Peringkat idAA- Untuk Obligasi Medco Energi (MEDC)
Kebut Right Issue, Andry Hakim Serok 2 Juta Saham CBRE
Surplus 29,61 Persen, Laba SCMA Tembus Rp771 Miliar
BEI Kulik Investor Strategis, Ini Pembelaan BCAP
Sepanjang 2025, Laba Grup Astra (HEAL) Anjlok 19,85 Persen
Kinerja DGWG Positif Seiring Penguatan Kedaulatan Pangan dan Energi





