EmitenNews.com - PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) memberikan penjelasan soal mundurnya jadwal produksi pabrik baru Perseroan di Ogan Ilir, Sumatra Selatan. Pabrik 4D yang semula ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2025 kini bergeser ke kuartal II-2026, terutama karena revisi spesifikasi mesin dan hambatan pasokan dari Italia.

Manajemen ARNA menjelaskan, salah satu pemicu utama keterlambatan adalah perubahan desain mesin press yang membutuhkan tambahan waktu hampir tiga bulan. Selain itu, pengiriman mesin dari Italia juga tersendat akibat kendala produksi di negara pemasok tersebut.

Tak hanya itu, ARNA juga memutuskan mengubah spesifikasi mesin digital printer keramik. Awalnya mesin itu dirancang untuk produksi ukuran 60x60 dan 60x120, namun setelah evaluasi pasar, perusahaan melihat peluang besar di ukuran 80x80. Perubahan kontrak pun tak terhindarkan, yang akhirnya ikut menggeser target produksi komersial menjadi akhir April 2026.

Meski molor, manajemen ARNA, dalam keterbukaan informasi, Senin (13/4/2026) menyatakan tetap optimistis ekspansi ini akan mendongkrak kapasitas produksi. Pabrik 4D memiliki kapasitas 5,5 juta meter persegi per tahun dan akan menjadi tambahan penting untuk menopang target produksi 2026 yang dipatok naik 10 persen menjadi 73,8 juta meter persegi, dari realisasi tahun lalu sebesar 66,9 juta meter persegi.

Perseroan juga sedang merombak lini produksi lama agar lebih efisien. Dua line keramik dinding yang sebelumnya dihentikan kini diganti menjadi mesin single firing untuk produksi keramik lantai—segmen yang dinilai jauh lebih laku di pasar. Strategi ini diharapkan memperbaiki efisiensi sekaligus menekan risiko penumpukan stok.

Dari sisi belanja modal, setelah tahun lalu menggelontorkan hampir Rp250 miliar yang sebagian besar untuk Plant 4D, tahun ini ARNA memperkirakan capex turun ke kisaran Rp150–200 miliar. Dengan investasi besar yang sudah dilakukan sebelumnya, perusahaan kini fokus menuntaskan ekspansi dan mengejar peningkatan penjualan sekitar 7 persen sepanjang 2026.

Sebagai informasi, Perseroan mencatat Penjualan Bersih meningkat 11% dari Rp2,63 triliun pada 2024 menjadi Rp2,91 triliun pada tahun 2025. Laba Bersih tahun 2025 dibukukan sebesar Rp400,48 miliar, mengalami penurunan 6% dari Rp425,97 miliar pada tahun 2024.