EmitenNews.com-Saham emiten properti PT Sentul City Tbk (BKSL) akhirnya kembali hidup atau bergerak aktif diperdagangkan oleh para investor saham di Bursa Efek Indonesia setelah mengalami fase beku di level terendah atau gocap.

Pada perdagangan kemarin, Selasa (6/9/2022) Saham BKSL menjadi salah satu top gainers dengan penguatan 33,33 persen atau 18 poin ke level 72 per saham dari harga pembukaan di Rp54 per saham.


Saham BKLS pada perdagangan kemarin ditransaksikan sebanyak 29.037 kali, dengan volume sebanyak 3,40 miliar saham dan nilai transaksi mencapai Rp233,47 miliar.

Lonjakan saham BKSL terjadi seiring dengan kabar aksi korporasi berupa right issue yang akan di lakukan oleh Sentul City (BKSL) dalam waktu dekat.


respons positif terkait rencana rights issue dengan harga pelaksanaan Rp50 per saham. Manajemen perusahaan menargetkan rencana aksi korporasi ini bisa mendapatkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 26 September 2022 dan recording date 6 Oktober 2022.

Seperti diketahui, saham BKSL memulai pentas di atas level 50 sejak perdagangan 18 Agustus 2022. Hari ini, harga saham sempat menyentuh level tertinggi sepanjang 2022, yakni 71, setelah sebelumnya tertekan sentimen negatif dari laporan keuangan semester I-2022 yang berbalik merugi Rp21,31 miliar. Rugi BKSL itu berbalik dari peroleh laba bersih di semester I-2021 sebesar Rp294,46 miliar.

Pendapatan turun 21,8 persen menjadi menjadi Rp408,56 miliar karena penjualan lahan siap bangun, rumah hunian, ruko, dan rumah susun menyusut 27,4 persen menjadi Rp307,73 miliar.


Selain itu, pendapatan jasa pengelolaan kota melorot 10 persen menjadi Rp36,136 miliar. Tapi pendapatan dari hotel, restoran dan taman hiburan tumbuh 10,8 persen menjadi Rp64,689 miliar.

Beban pokok pendapatan bengkak menjadi Rp119,82 miliar. Sehingga laba kotor turun 29,06 persen menjadi Rp288,73 miliar. Selain itu, beban keuangan naik 33 persen menjadi Rp173,28 miliar.Akibatnya, perseroan mengalami rugi sebelum pajak penghasilan sebesar Rp25,056 miliar.

Sementara itu, kewajiban berkurang 0,5 persen dibanding akhir tahun 2021 menjadi Rp6,136 triliun. Sedangkan ekuitas terkikis 0,18 persenmenjadi Rp10,467 triliun. Sehingga aset menyusut 0,3 persen menjadi Rp16,603 triliun.