Kado Pahit 2024, Pefindo Lorot Peringkat WIKA jadi idBB-
:
0
Bandar Udara Banggai Laut, garapan perseroan menjadi pemantik pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) melorot peringkat Wijaya Karya (WIKA) menjadi idBB- dengan prospek Credit Watch dengan implikasi negatif dari sebelumnya idBBB-/stabil. Saat bersamaan, Pefindo juga menurunkan peringkat surat utang masih beredar menjadi idBB-.
Surat utang itu meliputi Obligasi Berkelanjutan I, II, dan III menjadi idBB-, dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I, II, dan III menjadi idBB-(sy). Pemeringkatan itu, menindaklanjuti ketidakmampuan perseroan mengantongi restu pemegang Obligasi Berkelanjutan II Tahap II/2022 Seri A senilai Rp593,9 miliar dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II Tahap II/2022 Seri A senilai Rp412,9 miliar.
Surat utang itu, akan jatuh tempo pada 18 Februari 2025. Di mana, perseroan mengajukan usulan untuk membayar sebagian surat utang tersebut, dan sisa pokok utang diperpanjang, dengan tetap membayarkan kupon dengan nilai sama serta menambahkan opsi beli untuk Seri A, B, dan C.
Berdasar pandangan Pefindo, perseroan menghadapi risiko tinggi pembiayaan kembali untuk dapat memenuhi pembayaran pokok obligasi, dan sukuk secara penuh dengan tepat waktu. Maklum, kinerja keuangan perusahaan lemah, dan likuiditas tertekan. Peringkat itu, mencerminkan kehadiran perusahaan yang mapan di industri konstruksi nasional.
Peringkat tersebut dibatasi profil keuangan, likuiditas lemah, risiko ekspansi sebelumnya, dan lingkungan bisnis bergejolak. Ketidakmampuan perseroan melunasi obligasi, dan sukuk akan jatuh tempo dapat menyebabkan penurunan peringkat. Pefindo dapat meninjau kembali peringkat, dan prospek perseroan kalau mampu menyelesaikan pelunasan obligasi sebelum tanggal jatuh tempo.
Berdiri pada 1961, perseroan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang konstruksi Indonesia. Perusahaan mencakup segmen investasi, realty & property, infrastruktur & gedung, energi & industrial plant, dan industri. Per 30 November 2024, pemegang saham perusahaan yaitu Pemerintah Indonesia 91,02 persen, dan publik 8,98 persen. (*)
Related News
Market Mid-Upper Stabil Belanja, Pendapatan Erajaya Naik 17,35 Persen
TLKM-PGN Garap Green Data Center, Cikarang hingga Surabaya Masuk Radar
Aksi Divestasi Rp17,9 M di KETR, Gema Lintas Benua Lepas 44 Juta Saham
Jadwal Produksi Pabrik Baru ARNA Mundur, Ini Penyebabnya
Prima Andalan (MCOL) Bentuk Anak Usaha, Gelontorkan Modal Rp18,7 M
Induk KOTA Investasi Saham Perdana Rp200M di Emiten Grup Bakrie (MDIA)





