EmitenNews.com - Adaro Andalan Indonesia (AADI) bakal melakukan pembelian kembali saham alias buyback Rp5 triliun. Aksi buyback akan dilakukan dalam tempo 12 bulan sejak mendapat izin para investor. Tepatnya, periode buyback dilakukan sejak 23 Mei 2026 hingga 22 Mei 2027.

Oleh karena itu, emten asuhan tangan dingin Boy Thohir tersebut akan meminta restu para pemodal dalam rapat umum pemegang saham tahunan pada 22 Mei mendatang. Aksi buyback dilakukan dengan sejumlah pertimbangan yaitu sebagai berikut. 

Perseroan memiliki kesempatan dan fleksibilitas untuk melaksanakan buyback setiap saat berdasar kondisi pasar, dalam jangka waktu paling lama 12 bulan terhitung sejak persetujuan investor. Rencana buyback diharap dapat meningkatkan dan mengatrol likuiditas perdagangan sehingga mencerminkan nilai fundamental.

Kerek Kepercayaan Investor

Perseroan berharap pelaksanaan pembelian kembali saham akan memberikan tingkat pengembalian yang baik bagi para pemegang saham, dan meningkatkan kepercayaan investor. Dengan demikian, harga saham perseroan dapat mencerminkan kondisi fundamental sebenarnya.

Emiten didikan kakak kandung Erick Thohir itu, berkeyakinan pelaksanaan pembelian kembali saham tidak akan memberikan pengaruh negatif terhadap kinerja, dan pendapatan perseroan. Itu karena saldo laba dan arus kas tersedia saat ini mencukupi untuk kebutuhan dana pelaksanaan buyback. 

Kinerja Terseok-seok

Sepanjang tahun lalu, kinerja Adaro Andalan mengalami kontraksi cukup dalam. Adaro mencatat laba tahun berjalan diatribusikan kepada pemilik entitas induk USD760,18 juta. Anjlok 37,17 persen secara year on year (yoy) dibanding edisi sama 2024 sebesar USD1,21 miliar.

Penurunan laba seiring melemahnya pendapatan usaha. Pendapatan AADI tercatat USD4,91 miliar, turun 7,53 persen dari periode sama tahun sebelumnya USD5,31 miliar. Menilik sisi operasional, beban pokok pendapatan turun menjadi USD3,64 miliar, atau menyusut 5,45 persen dari USD3,85 miliar.

Beban Bengkak

Namun, penurunan biaya itu, belum mampu menahan penyusutan laba bruto USD1,26 miliar, turun 13,70 persen dari USD1,46 miliar. Tekanan juga terlihat pada kinerja operasional. Laba usaha tercatat USD1,04 miliar, merosot 29,73 persen yoy dibandingkan USD1,48 miliar pada 2024.

Sementara itu, laba sebelum pajak (EBITDA) mencapai USD1,05 miliar, turun 31,82 persen yoy dari USD1,54 miliar pada tahun sebelumnya. Lalu neraca aset perseroan per akhir 2025 tercatat totalnya USD5,70 miliar, turun 4,84 persen yoy dari USD5,99 miliar pada 2024. (*)