Kaya tapi Tetap Merasa Kurang: Efek Dunning-Kruger Finansial
:
0
ilustrasi aset emas dan uang. DOK/Pngtree
EmitenNews.com -Banyak orang yang sudah berhasil meraih kekayaan tapi tetap merasa kurang puas dan selalu cemas soal keuangan mereka. Fenomena ini bukan cuma soal psikologi biasa, tapi ada penjelasan ilmiahnya yang dikenal dengan istilah Efek Dunning-Kruger Finansial.
Fenomena ini menggambarkan bagaimana orang yang sebenarnya memiliki pengetahuan terbatas tentang keuangan atau investasi bisa merasa terlalu percaya diri, sementara mereka yang lebih paham justru cenderung meragukan kemampuan mereka. Akibatnya, meskipun sudah kaya, perasaan kurang dan kekhawatiran soal uang tetap menghantui.
Fenomena ini menjadi sangat relevan di era modern, di mana akses informasi keuangan sangat mudah, namun kualitas pemahaman dan penerapan ilmunya belum tentu sebanding. Banyak orang terjebak dalam rasa percaya diri yang salah karena informasi yang mereka terima belum mereka telaah secara kritis.
Pada saat yang sama, orang yang benar-benar memahami keuangan justru menyadari betapa rumit dan dinamisnya dunia finansial, sehingga sikapnya menjadi lebih hati-hati dan terkadang merasa belum cukup.
Apa Itu Efek Dunning-Kruger?
Efek Dunning-Kruger adalah fenomena psikologis yang pertama kali diperkenalkan oleh David Dunning dan Justin Kruger pada tahun 1999. Mereka menemukan bahwa individu dengan kompetensi rendah dalam suatu bidang sering kali tidak menyadari ketidaktahuannya, sehingga melebih-lebihkan kemampuannya sendiri.
Sebaliknya, individu dengan kompetensi tinggi cenderung meremehkan kemampuannya karena mereka lebih menyadari kompleksitas dan risiko di bidang tersebut.
Dalam konteks keuangan, efek ini berarti mereka yang minim pengetahuan sering merasa sudah sangat ahli dalam mengelola uang, investasi, atau bisnis, padahal sebenarnya masih banyak hal yang belum mereka pahami. Mereka mungkin mengambil keputusan berisiko tinggi tanpa dasar yang kuat karena keyakinan yang salah atas kemampuannya sendiri.
Sebaliknya, orang yang benar-benar ahli dan berpengalaman di dunia finansial justru selalu merasa harus terus belajar dan waspada, sehingga mereka lebih hati-hati dan cenderung tidak pernah merasa cukup.
Fenomena ini berkaitan erat dengan bias kognitif dan persepsi diri yang salah. Kurangnya kesadaran akan keterbatasan diri bisa berujung pada keputusan yang merugikan, terutama dalam pengelolaan keuangan yang sangat kompleks dan penuh ketidakpastian.
Related News
Akar Masalah Joki Coretax
Sanksi Massal BEI: Penegakan Disiplin atau Compliance Semu?
Risiko PNM di bawah Kemenkeu
Kebijakan Bertubi-tubi Uji Kepercayaan Investor Pasar Modal RI
Dorong Swasta Investasi di Infrastruktur, Pemerintah Tak Perlu Modal
Menata Pengelolaan Risiko Denera





