EmitenNews.com - Belajarlah sampai ke Negeri Hindustan. Dengan semangat itulah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mengirim tim ke India untuk mempelajari Pembangunan Listrik Tenaga Surya (PLTS). Proyek PLTS di negara tersebut sangat murah. Kementerian ESDM akan mendorong PLTS terapung, mencontoh PLTS di Cirata, yang sudah sukses.

"Di India, saya baca salah satu media, ini ada pembangunan PLTS 220 Megawatt dengan biaya hanya 3 sen," ujar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam acara Indonesia International Sustainability Forum (IISF) di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (10/10/2025).

Jika hal itu diterapkan di Indonesia, maka akan memudahkan pengembangan energi hijau di Tanah Air. Bahlil mengirim tim untuk mengecek.

“Kalau itu benar, maka saya pikir ini sebuah hal yang juga bisa kita elaborasi untuk bisa kita lakukan," ungkap Ketua Umum Partai Golkar itu.

Sebelumnya, Bahlil menyatakan, pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto menargetkan bisa membangun Pembangkit Listrik Tenaga suray (PLTS) di tiap Desa dengan kapasitas hingga 1,5 Mega Watt (MW).

Kelak, kapasitas total PLTS di setiap desa di Indonesia akan mencapai 100 Giga Watt (GW).

"Itu program Bapak Presiden yang satu desa, 1 sampai 1,5 MW solar panel ya," kata Bahlil di sela acara 11th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE), di Jakarta, Rabu (17/9/2025).

Pemerintah bakal menggenjot pembangunan PLTS hingga 2034. Hal itu sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) untuk periode 2025-2034.

Dari seluruh jenis kapasitas pembangkit energi bersih yang akan dibangun di dalam RUPTL baru, sumber energi surya memiliki porsi yang cukup besar yakni 17,1 GW.

Menter Bahlil sempat mengungkapkan rencana pembangunan PLTS dengan target 100 GW tersebut memerlukan keterlibatan para investor asing. Mengingat, kapasitas industri panel surya dalam negeri saat ini hanya sekitar 5 GW per tahun.