EmitenNews.com - Dunia sedang berada di tengah gelombang investasi teknologi terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Perusahaan-perusahaan teknologi raksasa seperti Microsoft, Google, Amazon, hingga Meta berlomba-lomba menggelontorkan investasi jumbo untuk membangun dan memperluas fasilitas data center guna menopang perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan. Nilai belanja modal untuk infrastruktur ini bahkan diperkirakan menembus ratusan miliar dolar AS secara global dalam beberapa tahun ke depan.

Namun, di balik hiruk pikuk narasi kecerdasan buatan, algoritma canggih, dan chip prosesor mutakhir, terdapat fondasi yang kerap luput dari sorotan publik, yaitu logam. Sebelum sebuah data center mampu menjalankan model bahasa raksasa atau melatih sistem AI generatif, fasilitas tersebut terlebih dahulu harus dibangun secara fisik. Struktur bangunan, sistem kelistrikan, jaringan kabel, hingga sistem pendingin, semuanya membutuhkan logam dalam jumlah masif.

Menurut Copper Development Association, kebutuhan tembaga pada data center konvensional berkisar 5.000 hingga 15.000 ton, sementara fasilitas hyperscale yang dirancang khusus untuk AI dapat menyerap hingga 50.000 ton tembaga per fasilitas. 

Sementara itu, World Economic Forum mencatat bahwa kampus hyperscale berskala besar membutuhkan 10.000 ton baja untuk fasilitas seluas sekitar 75.000 meter persegi, dan bisa melampaui 200.000 ton untuk kompleks multi gedung yang mendekati luas 1,7 juta meter persegi.

Sebagai gambaran nyata, fasilitas Microsoft di Chicago berkapasitas 80 MW diketahui menggunakan sekitar 2.100 ton tembaga, atau setara 26 ton per MW. Angka-angka ini menunjukkan betapa data center modern bukan sekadar proyek teknologi, melainkan juga proyek industri berat yang menghidupkan kembali permintaan terhadap komoditas tambang seperti tembaga, aluminium, baja, nikel, dan timah.

Tembaga, Urat Nadi Kelistrikan Data Center

Tembaga selama ini dikenal sebagai konduktor listrik terbaik kedua setelah perak, namun dengan biaya produksi yang jauh lebih ekonomis sehingga menjadikannya pilihan utama dalam berbagai aplikasi kelistrikan. Di dalam data center, tembaga digunakan secara ekstensif pada kabel distribusi daya dari trafo menuju server, kabel jaringan, busbar, hingga komponen heat exchanger pada sistem pendingin.

Yang menarik, kebutuhan tembaga per unit data center cenderung meningkat seiring dengan semakin canggihnya chip AI yang digunakan. Unit pemrosesan grafis atau GPU generasi terbaru mengonsumsi daya listrik yang jauh lebih besar dibandingkan server konvensional, sehingga infrastruktur kelistrikan yang menopangnya pun harus diperkuat, dan itu berarti lebih banyak tembaga yang dibutuhkan per rak server. 

Tak heran jika tembaga kerap dijuluki sebagai logam masa depan, mengingat perannya yang juga vital dalam kendaraan listrik dan energi terbarukan. Di pasar modal domestik, emiten seperti Amman Mineral Internasional (AMMN), Merdeka Copper Gold (MDKA), dan Tembaga Mulia Semanan (TBMS) menjadi representasi dari sektor ini.

Aluminium, Andalan untuk Mengelola Panas