EmitenNews.com -Dari 11 emiten yang masih bertahan MSCI Global Standard Index hasil review Mei 2026, terdapat emiten yang merupakan milik konglomerat. Di samping itu juga ada emiten badan usaha milik negara (BUMN).

Seperti diketahui hasil review MSCI Mei 2026 menyisakan 11 emiten dari semula 17 emiten yang bergabung di MSCI Global Standard Index. Kesebelas emiten tersebut adalah PT Astra International Tbk. (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI)?PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan?PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Selain itu juga, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT United Tractors Tbk (UNTR).

Emitennews.com, Rabu (12/8/2026) memilih empat emiten dari 11 emiten merupakan milik konglomerat, yakni BBCA, BRPT, ASII, dan BRMS. Bagaimana kinerja kelima emiten tersebut sepanjang Semester I 2026? Siapa saja yang tumbuh negatif?

Berikut keempat emiten milik konglomerat di MSCI Global Standard Index.??

1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

Emiten perbankan milik Grup Djarum  atau Keluarga Hartono ini membukukan laba bersih Rp29,5 triliun di Semester I 2026 atau tumbuh 1,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Kinerja solid BBCA ini didorong oleh tonggak sejarah baru di mana total penyaluran kredit konsolidasian BCA untuk pertama kalinya menembus level psikologis Rp1.036 triliun ( naik 8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu), dibantu oleh momentum gelaran BCA Expoversary serta kenaikan pendapatan non-bunga sebesar 11%.

2. PT Barito Pacific Tbk (BRPT)

Emiten Grup Barito milik konglomerat Prajogo Pangestu ini membukukan laba bersih Semester I 2026 US$190 Juta (sekitar Rp3,42 triliun). Meski demikian, pertumbuhan laba bersih BRPT merosot 64,8% dibandingkan dengan profitabilitas tahun lalu.

Meskipun pendapatan bersih holding meningkat 76,1% menjadi US$5,68 miliar, laba bersih mengalami tekanan hebat akibat tingginya beban operasional terintegrasi dan volatilitas margin di industri petrokimia global.