EmitenNews.com - Harga minyak mentah mengalami penurunan di bawah USD82 per barel pada perdagangan hari Selasa. Penurunan ini menandai sesi ketiga berturut-turut pelemahan harga minyak di pasar internasional.

Menurut Trading Economics, penurunan harga dipicu oleh optimisme terkait dimulainya kembali pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Pemulihan komunikasi ini memunculkan harapan bahwa aliran minyak normal dari kawasan tersebut dapat segera dilanjutkan.

Presiden Donald Trump menyatakan bahwa AS sedang terlibat dalam perundingan yang baik dengan Iran. Trump dilaporkan memilih untuk menangguhkan serangan terhadap Iran guna memberikan kesempatan pada proses negosiasi.

AS diam-diam menghentikan serangan terhadap Republik Islam tersebut pada Jumat malam setelah hampir dua minggu pertempuran. Di saat yang sama, Teheran juga menghentikan serangan balasan terhadap pangkalan AS di negara-negara tetangga.

Selain perundingan AS-Iran, negosiator Iran dan Oman telah bertemu selama akhir pekan. Pertemuan tersebut bertujuan mengamankan kesepakatan guna memulihkan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz yang strategis.

Di wilayah lain, kondisi pasokan minyak global dilaporkan mulai membaik. Ekspor minyak mentah telah dilanjutkan di terminal Caspian Pipeline Consortium di pantai Laut Hitam Rusia, yang merupakan jalur utama minyak Kazakhstan setelah sebelumnya terganggu oleh serangan pesawat tak berawak Ukraina.

Penurunan harga minyak mentah global ini memberikan sinyal positif bagi perekonomian Indonesia. Sebagai negara pengimpor minyak neto (net oil importer), melandainya harga minyak dunia berpotensi meredakan tekanan pada beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta menjaga stabilitas harga bahan bakar di dalam negeri.(*)