Konflik Timur Tengah Bawa IHSG Anjlok 4,41 Persen ke Level 7.589
:
0
Papan 'merah' perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta.
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah tajam pada perdagangan Rabu (4/3/2026), terseret sentimen global yang memburuk akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia.
IHSG turun 394,82 poin atau 4,41% ke level 7.589,94. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Bursa Efek Indonesia, Irvan Susandy, mengatakan tekanan tersebut dipicu eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas. Pelemahan terjadi seiring sikap risk-off investor yang cenderung menghindari aset berisiko di tengah ketidakpastian geopolitik.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejalan dengan pelemahan tajam di bursa regional. Indeks seperti KOSPI, SET Index, KOSDAQ, Nikkei 225, TAIEX, hingga S&P/ASX 200 kompak terkoreksi, bahkan pasar saham Korea Selatan sempat mengalami trading halt setelah turun lebih dari 8%.
“Pergerakan IHSG sejalan dengan indeks regional yang juga turun tajam. Ini merupakan dampak dari eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah, termasuk penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang menimbulkan kekhawatiran krisis energi. Hal tersebut sudah tercermin pada kenaikan harga minyak dunia,” ujar Bos BEI itu.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai secara teknikal posisi IHSG berada di area krusial.
“Brace your portfolio untuk kemungkinan jebol lebih dalam lagi (bearish downtrends). Volatilitas masih akan tinggi dalam dua pekan ini, sikap wait and see masih lebih banyak disarankan,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Konflik Iran–AS–Israel Picu Lonjakan Minyak
Sentimen global didominasi mode risk-off setelah konflik Timur Tengah memasuki hari keempat dengan eskalasi serangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Serangan terhadap fasilitas energi dan kapal tanker di kawasan Teluk, disertai ancaman penutupan Selat Hormuz—jalur distribusi sekitar seperlima pasokan energi global—memicu kekhawatiran gangguan suplai minyak dunia.
Harga minyak Brent melonjak ke kisaran USD81–USD82 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar USD$74–USD$75 per barel. Sebelumnya, harga sempat melonjak hampir 10% secara intraday dan mencapai level tertinggi sejak periode 2024–2025.
Related News
Telisik, 10 Saham Top Losers dalam Sepekan
Sell Indonesia, Total Outflow 2026 Sudah Capai Rp72,21 Triliun!
DSSA, SMMA, MSIN, dan DAAZ Warnai Top Gainers Pekan ini
IHSG Jumat (5/6) Babak Belur, Investor Asing Justru Masuk 10 Saham Ini
IHSG Rontok, Kapitalisasi Pasar Lenyap Rp6.207 Triliun
Ekspor SDA Tetap Sesuai Kontrak Sepanjang Tak Ada Underinvoicing





