EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup melemah akibat koreksi saham sektor teknologi. Pencalonan Kevin Warch sebagai kandidat Chairman The Fed oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, direspons positif investor. 

Dolar AS (USD) menguat, dan yield US Treasury stabil. Namun, harga emas dan perak melemah tajam akibat kekhawatiran akan independensi bank sentral serta profit taking. Pekan ini, investor akan mencermati data tenaga kerja, dan indeks PMI AS. Investor akan mencermati kelanjutan earning season saham sektor teknologi, dan AI. 

Pekan ini, investor Eropa menanti ECB, dan BoE menetapkan kebijakan moneter. Sedang dari domestik,  pemerintah akan merilis indeks PMI Manufacturing, neraca perdagangan, inflasi, pertumbuhan ekonomi, cadangan devisa, dan indeks harga properti. 

Investor akan mencermati perkembangan gejolak pasar modal Indonesia setelah beberapa pejabat otoritas mundur. Langkah cepat pemerintah segera menunjuk pejabat sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkuat langkah pemerintah menenangkan investor, akan membuat kekhawatiran investor mereda. 

Selanjutnya, investor akan menanti implementasi kebijakan yang sudah dicanangkan. Secara teknikal, indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan cenderung konsolidasi pada kisaran 8.150-8.600. Nah, kalau indeks mampu bertahan di atas 8.600, berpotensi melanjutkan rebound. 

Menilik data dan fakta tersebut, Phintraco Sekuritas menyarankan para selaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, HM Sampoerna (HMSP), TBS Energi Utama (TOBA), Unilever Indonesia (UNVR), Bank Syariah Indonesia alias BSI (BRIS), Bank BTN (BBTN), dan Gudan Garam (GGRM). (*)