EmitenNews.com - Kinerja keuangan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026 memperlihatkan dinamika yang menarik untuk dicermati. Pengembang kawasan kota mandiri BSD City ini mencatatkan penurunan pendapatan usaha sebesar 13,99 persen dari Rp8,76 triliun pada sembilan bulan pertama tahun 2025 menjadi Rp7,54 triliun pada periode yang sama tahun 2026, atau berkurang sebesar Rp1,23 triliun. 

Meskipun perusahaan berhasil menekan biaya pokok penjualan secara signifikan hingga 21,84 persen dari Rp3,21 triliun menjadi Rp2,51 triliun, keuntungan kotor tetap tergerus 9,45 persen dari Rp5,55 triliun menjadi Rp5,02 triliun. 

Di saat bersamaan, beban operasional harian bersifat lebih kaku dan hanya berkurang 3,02 persen dari Rp3,41 triliun menjadi Rp3,31 triliun, yang mengakibatkan keuntungan operasional tertekan 19,73 persen dari Rp2,13 triliun menjadi Rp1,71 triliun. 

Tekanan paling dalam terlihat pada hasil akhir pembukuan, di mana keuntungan periode berjalan merosot 32,43 persen dari Rp1,47 triliun menjadi Rp995,10 miliar, sementara keuntungan bersih yang dapat didistribusikan kepada pemegang saham induk anjlok 38,05 persen dari Rp1,36 triliun menjadi Rp844,70 miliar. 

Penurunan tajam pada keuntungan bersih ini dipicu oleh pembengkakan beban di luar usaha bersih yang mencapai Rp753,11 miliar, bersumber dari kerugian pelepasan anak perusahaan sebesar Rp30,58 miliar serta tingginya beban bunga pinjaman dan keuangan yang menembus Rp1,29 triliun.

Bedah Sumber Pemasukan, Rumah Tapak Masih Jadi Tulang Punggung

Pemeriksaan rinci terhadap pos pembentukan pemasukan BSDE menunjukkan bahwa penjualan properti masih menjadi penyokong terbesar, walaupun nilainya mengalami penurunan dari Rp7,47 triliun menjadi Rp6,00 triliun. 

Pelemahan ini berasal dari penjualan tanah dan rumah tinggal yang terkoreksi menjadi Rp5,56 triliun dari sebelumnya Rp6,89 triliun, serta penjualan apartemen dan bangunan kepemilikan bersatu (strata title) yang turun dari Rp586,53 miliar menjadi Rp442,72 miliar. Di sisi lain, lini pemasukan berulang (recurring income) justru menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. 

Pemasukan dari sewa properti naik dari Rp765,86 miliar menjadi Rp908,52 miliar, sementara jasa pengelola gedung meningkat dari Rp293,29 miliar menjadi Rp312,30 miliar. Rincian pengelolaan gedung ini mencakup jasa pelayanan sebesar Rp195,42 miliar dari sebelumnya Rp171,40 miliar, pemeliharaan prasarana Rp54,44 miliar dari Rp59,22 miliar, tarif parkir Rp44,93 miliar dari Rp44,81 miliar, kegiatan promosi Rp16,82 miliar dari Rp17,35 miliar, serta perbaikan gedung Rp695,95 juta dari sebelumnya Rp504,74 juta. 

Pemasukan dari jalan tol juga naik dari Rp74,85 miliar menjadi Rp89,70 miliar, arena rekreasi menyumbang Rp71,25 miliar dari Rp71,46 miliar, dan bisnis perhotelan meningkat dari Rp52,29 miliar menjadi Rp56,44 miliar. BSDE juga mencatatkan sumber pemasukan baru dari jasa telekomunikasi sebesar Rp72,20 miliar yang pada periode sebelumnya bernilai nihil, meskipun lini pengolahan air kali ini tidak lagi menyumbang pemasukan setelah sebelumnya mencatat Rp13,70 miliar, serta pos lain-lain yang naik dari Rp19,48 miliar menjadi Rp22,12 miliar.