Laba BUVA Drop, Right Issue, dan Hapsoro Kurangi Porsi Saham
:
0
Tampak pemandangan hotel besutan Bukit Uluwatu dari udara. FOTO - Dok BUVA
EmitenNews.com - Bukit Uluwatu (BUVA) per 30 Juni 2026 mengemas laba bersih Rp8,14 miliar. Anjlok 89,96 persen dari episode sama tahun sebelumnya dengan tabulasi laba Rp81,12 miliar. Menyusul hasil kurang menyenangkan itu, laba per saham dasar emiten besutan suma Puan Maharani yaitu Happy Hapsoro tersebut menjadi Rp0,33 dari sebelumnya Rp3,94.
Pendapatan Rp173,95 miliar, Tumbuh tipis 4,71 persen dari posisi sama tahun lalu Rp166,12 miliar. Beban pokok pendapatan Rp53,02 miliar, susut dari episode sama 2025 senilai Rp53,45 miliar. Laba kotor terkumpul Rp120,93 miliar, mengalami peningkatan dari fase sama tahun sebelumnya Rp112,66 miliar.
Beban penjualan Rp11,31 miliar, bengkak dari Rp10,76 miliar. Beban umum dan administrasi Rp59,96 miliar, bertambah dari Rp57,53 miliar. Beban operasi, proporti, pemeliharaan, dan energi Rp12,43 miliar, berkurang dari Rp12,82 miliar. Beban manajemen dan lisensi Rp8,9 miliar, naik dari Rp8,2 miliar.
Pendapatan operasional lain Rp181,39 juta, turun dari Rp1,52 miliar. Beban operasional lain Rp1,08 miliar, berkurang dari Rp1,46 miliar. Laba usaha Rp27,39 miliar, melonjak dari sebelumnya Rp23,39 miliar. Bagian laba bersih pada entitas asosiasi Rp1,98 miliar, menukik dari Rp77,1 miliar.
Pendapatan keuangan Rp3,15 miliar, melenting dari Rp1,46 miliar. Rugi selisih kurs Rp18,51 miliar, susut dari periode sama tahun lalu Rp19,9 miliar. Beban keuangan Rp2,15 miliar, bengkak dari Rp382,32 miliar. Pajak final Rp630,72 juta, naik dari Rp293,38 juta. Laba periode berjalan Rp8,42 miliar, drop dari Rp81,39 miliar.
Total ekuitas Rp2,15 triliun, naik dari akhir tahun sebelumnya Rp2,15 triliun. Defisit Rp1,13 triliun, susut dari akhir 2025 senilai Rp1,14 triliun. Jumlah liabilitas Rp575,58 miliar, bertambah bengkak dari akhir tahun lalu Rp556,12 miliar. Total aset Rp2,73 triliun, melonjak dari akhir tahun sebelumnya Rp2,7 triliun.
Right Issue Lunasi Utang dan Akuisisi
BUVA tengah merancang right issue maksimal Rp1,54 triliun. Itu dengan melepas maksimum 6,15 miliar saham baru bernominal Rp50 per helai dengan harga pelaksanaan Rp250 per lembar. Right issue menyapa investor dengan rasio 4:1. Artinya, setiap pemegang 4 saham lama tercatat dalam daftar pemegang saham pada 28 September 2026 berhak memperoleh 1 Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) untuk menebus satu saham baru.
Pelaksanaan right issue berpotensi menimbulkan dilusi kepemilikan pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya maksimal 20 persen. Dana hasil right issue sekitar Rp417,8 miliar untuk mempercepat pelunasan seluruh pokok utang pembiayaan, lalu sisanya untuk membiayai ekspansi proyek properti, dan kawasan wisata di Bali serta Bintan.
Selain itu, dana hasil right issue juga akan menopang ekspansi bisnis Perseroan, khususnya sektor properti dan perhotelan. Sebesar Rp420,49 miliar untuk menginjeksi Bukit Bali Permai (BBP). Dana itu antara lain untuk mencaplok Royal Uluwatu Residence (RUR) senilai Rp193,41 miliar, dan tambahan modal Rp227,08 miliar guna mengembangkan proyek West Resort di kawasan Uluwatu, Bali.
Related News
Sahamnya ARA hingga 2 Kali, Berlanjut Dipelototi BEI
PBRX Terseok-seok, Berbalik Rugi, dan Defisit Bengkak
Mumpung Diskon, Petinggi Astra Terus Borong Saham ASII
Rugi Beruntun, Saham Emiten Hapsoro (UANG) Mulai Menggeliat
BKDP Anggota Baru, ini 54 Daftar Saham Berstatus HSC
Tambah Porsi, Putrasakti Mandiri Kini Kuasai 36 Persen Saham KDTN





