Laba Neobank (BBYB) Melangit 2.745 Persen Jadi Rp565,69 Miliar!
Potret suasana perkantoran PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB). Foto: BBYB.
EmitenNews.com - PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) menutup tahun buku 2025 dengan lonjakan laba bersih, di tengah upaya perseroan memperkuat fundamental bisnis hingga permodalan serta efisiensi operasional berbasis digital.
Merunut laporan keuangan per 31 Desember 2025 yang dikutip Rabu (1/4/2026), laba bersih BBYB tercatat sebesar Rp565,69 miliar, melonjak 2.745 persen secara year on year (yoy) dibandingkan Rp19,88 miliar pada 2024.
Direktur Utama BBYB, Eri Budiono dalam keterangan resminya menyampaikan bahwa capaian kinerja sepanjang 2025 merupakan hasil dari strategi transformasi yang dijalankan secara konsisten dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
“Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi Bank Neo Commerce dalam memperkuat fundamental bisnis dan memastikan bahwa setiap langkah pertumbuhan yang kami lakukan tetap berada dalam koridor kehati-hatian,” ujar Eri.
Neraca total aset Neobank tercatat meningkat 8,99 persen yoy menjadi Rp18,97 triliun dari Rp17,41 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan aset ini sejalan dengan peningkatan pendanaan, di mana Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp14,03 triliun atau naik 7,37 persen yoy dari Rp13,06 triliun.
Komposisi DPK menunjukkan penguatan pada dana murah, dengan tabungan meningkat menjadi Rp3,50 triliun dari Rp3,09 triliun. Sementara itu, deposito tetap stabil di kisaran Rp9,86 triliun, mencerminkan kepercayaan nasabah terhadap platform perbankan digital yang dikembangkan perseroan.
Kinerja profitabilitas juga didukung oleh perbaikan signifikan pada rasio efisiensi. BOPO turun menjadi 84,18 persen dari sebelumnya 99,34 persen, menandakan beban operasional yang semakin terkendali terhadap pendapatan. Cost to Income Ratio (CIR) tercatat di level 31,33 persen, sementara Net Interest Margin (NIM) berada di level tinggi 14,39 persen.
Dari sisi imbal hasil, Return on Assets (ROA) meningkat menjadi 3,11 persen dari 0,10 persen, sedangkan Return on Equity (ROE) melonjak menjadi 15,13 persen dari 0,59 persen pada tahun sebelumnya. Ini menunjukkan peningkatan efektivitas penggunaan aset dan modal dalam menghasilkan laba.
Kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL Net) berada di level rendah 0,89 persen. Likuiditas juga terbilang sangat kuat, tecermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 51,21 persen serta Liquidity Coverage Ratio (LCR) yang mencapai 614,93 persen, memberikan ruang ekspansi kredit ke depan.
Adapun, BBYB mencatatkan peningkatan modal inti menjadi Rp4,03 triliun dari Rp3,32 triliun, dengan rasio kecukupan modal (CAR) naik signifikan menjadi 49,07 persen dari 35,30 persen.
Selain itu, saham BBYB juga diunkapkan Eri telah resmi masuk dalam indeks Economic 30 yang mulai berlaku pada 2 Maret 2026.
Memasuki 2026, BBYB diungkapkan Eri akan memfokuskan strategi pada penyaluran kredit yang berkualitas serta penguatan ekosistem digital.
Perseroan juga menyiapkan peluncuran layanan Buy Now Pay Later (BNPL) pada pertengahan tahun, sebagai bagian dari upaya memperluas sumber pertumbuhan baru berbasis fee dan pembiayaan digital.
Related News
Emiten Furnitur Chitose (CINT) Raih Lonjakan Penjualan dan Laba 2025
TP Rachmat Jual 14,3 Juta Saham ESSA Senilai Rp10,8M, Harga Ikut Drop!
WINS Hentikan Buyback 2 Bulan Lebih Cepat, Ini Alasan Utamanya
Austindo (ANJT) Tunda Laporan Keuangan 2025, Audit Masih Berjalan
PerkuatĀ Ekspansi, RAJA Karungkan Pertumbuhan Laba 20 Persen di 2025
Turun Tipis, SUNI Bukukan Laba di Rp192 Miliar di 2025





