EmitenNews.com - Perdagangan saham pada 30 Desember 2025 ditutup dengan positif, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedikit menebal menjadi 8.646,94 naik 2,68 poin (0,03 persen). Inilah modal penting bagi Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam menghadapi 2026. “Bagaimana tantangan emiten bank Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) pada 2026?”

Sebelum itu, data kinerja saham sektor perbankan sepanjang 2025 menunjukkan bahwa terlihat perbedaan antara bank papan bawah dan bank papan atas. Sejumlah saham bank papan bawah dan menengah tampak naik signifikan secara year to date (ytd) dari awal hingga posisi perdagangan terakhir.

Tengok saja, saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) menjadi saham perbankan dengan kinerja paling kinclong yang terbang tinggi 444,97 persen. Saham PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) naik 120,18 persen yang disusul oleh PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) 112,86 persen. 

Sebaliknya, saham bank papan atas tampak lesu seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 16,54 persen, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 10,53 persen. Kemudian, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 10,29 persen dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) pun turun 18,32 persen.

Hanya saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang mengalami kenaikan meskipun amat tipis 0,46 persen. Bank Himbara lapis kedua (second liner) seperti PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) pun naik lebih tinggi 3,07 persen.

Setelah mengamati kinerja saham bank papan atas sepanjang 2025, bolehlah kita amati pula kinerja keuangan bank papan atas sampai dengan November 2025. Data menunjukkan bahwa BBCA menjadi nomor wahid secara kuantitatif dalam perolehan laba bersih paling tinggi dari Rp50,47 triliun per November 2024 menjadi Rp52,67 triliun per November 2025.

Kinerja unggul itu disusul oleh BBRI dengan laba bersih meskipun turun dari Rp50,47 triliun menjadi Rp45,45 triliun dan BMRI Rp44,15 triliun. Lalu BBNI Rp18,62 triliun dan BRIS Rp6,71 triliun serta BBTN Rp2,91 triliun. Tetapi secara kualitatif, BBTN menduduki juara pertama dengan kenaikan laba bersih paling tinggi 21,25 persen yang dibayangi oleh BNLI 12,83 persen dan BRIS 8,22 persen. BBCA menyusul dengan kenaikan laba bersih 4,36 persen.

Tiga bank lainnya mengalami penurunan laba secara kualitatif yakni, BBNI turun 6,01 persen, BMRI turun 6,4 persen dan BBRI 9,1 persen. Data tersebut menegaskan bahwa kinerja keuangan bank papan atas sesungguhnya masih positif. Lampu hijau yg artinya, bank papan atas masih mampu meraih laba bersih di tengah kenaikan ketidakstabilan ekonomi global seperti disrupsi teknologi dan gangguan rantai pasok (supply chain).

Pertanyaannya, mengapa harga saham bank papan atas mengalami koreksi sepanjang 2025 kecuali BBNI yang naik meskipun amat tipis 0,46 persen? Lantas, bagaimana “membaca” keunggulan kompetitif (competitive advantages) bank papan atas dengan hati dan kepala yang dingin? Terdapat beberapa langkah strategis.

Pertama, harap diakui bahwa investor sering terpengaruh oleh analisis para pakar, ekonom, dan pemengaruh (influencer) tentang kondisi bank papan atas. Sudah barang tentu, analisis tersebut dapat mendorong investor terutama investor ritel (individual) langsung mengerem dalam memegang saham bank papan atas.