Di dalam dunia bisnis dan akuntansi, liabilitas adalah komponen neraca keuangan yang masuk ke dalam kategori pasiva. Liabilitas bisa dikatakan sebagai hutang yang didapatkan oleh perusahaan untuk menjalani kebutuhan operasional mereka. Liabilitas menjadi kewajiban dalam proses melunasi hutang tersebut. Dalam bentuknya, liabilitas tidak harus berubah uang, melainkan juga produk atau jasa yang dibutuhkan oleh perusahaan lain.

 

Sekali pun sama-sama kewajiban yang menuntut pelunasan, liabilitas rupanya berbeda dengan beban usaha (expenses). Kalau beban usaha harus bisa dilunasi setelah perusahaan mendapatkan laba, liabilitas tidak demikian. Liabilitas harus di lunasi, tidak peduli sekalipun perusahaan mendapatkan laba atau tidak.

 

Merujuk data yang sama, ekuitas Elnusa hanya tercatat Rp4,11 triliun atau naik tipis 8,97 persen dibandingkan tahun sebelumnya Rp3,77 triliun. 

 

Hal ini menunjukkan ada gap antara ekuitas dan liabilitas. Dimana liabilitas Elnusa jauh lebih tinggi sebesar Rp601,66 miliar.

 

Menanggapi tentang utang perusahaan yang menggembung, Direktur Utama Elnusa John Hisar Simamora dalam keterangannya kepada Regulator Pasar Modal menjelaskan bahwa faktor yang menyebabkan kenaikan liabilitas hingga 36,5 persen adalah dikarenakan pengakuan liabilitas sewa dampak penerapan PSAK 73 dan kenaikan beban akrual proyek dan subkontraktor.

 

Sebagai tambahan informasi, istilah accrued expense sering disebut juga sebagai beban yang masih harus dibayar atau beban akrual. Beban ini sudah diketahui oleh perusahaan dan diakui sebagai kewajiban lancar dalam neraca, tetapi transaksi pembayarannya belum dilakukan atau dijadwalkan terjadi di masa depan.