EmitenNews.com - Pelaku usaha di berbagai sektor ekonomi global, termasuk industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia, mulai ketar-ketir melihat perkembangan perang di Timur Tengah yang disulut serangan Israel-Amerika Serikat terhadap Iran. Pelaku usaha mulai menghitung potensi gangguan pasokan bahan baku hingga lonjakan biaya logistik akibat konflik di kawasan Timur Tengah tersebut.

Kepada pers, Senin (2/3/2026), Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengungkapkan, dampak paling terasa berpotensi terjadi pada pasokan baku yang selama ini bergantung pada kawasan Timur Tengah, yakni impor Monoetilen Glikol (MEG).

"Dari sisi bahan baku, kita impor MEG 85% dari Timur Tengah, sepertinya ini yang akan terganggu. Kita coba alihkan impornya dari Malaysia. Kalau MEG kita saat ini ada stok untuk di atas 2 bulan," katanya.

Asal tahu saja. MEG (Monoetilen Glikol) merupakan bahan baku penting dalam produksi serat sintetis seperti poliester, yang banyak digunakan industri tekstil nasional. Ketergantungan tinggi terhadap pasokan dari Timur Tengah membuat industri harus segera mencari sumber alternatif guna mengantisipasi gangguan distribusi.

Dari segi harga, MEG asal timur tengah lebih murah dibandingkan dari Malaysia, tetap harus dipertimbangkan. Bagaimanapun melihat makin memanasnya situasi di Timur Tengah, alternatif untuk memastikan pasokan bahan baku aman di dalam negeri, harus segera ditindaklanjuti.

Bagusnya karena bahan baku utama lainnya dalam kondisi yang relatif aman, atau tidak terpengaruh dengan adanya eskalasi perang di kawasan Timur Tengah. Bahan baku utama lainnya seperti PTA (Purified Terephthalic Acid), 95% disuplai dari dalam negeri. Jadi, relatif lebih aman.

PTA (Purified Terephthalic Acid) merupakan komponen utama lain dalam produksi poliester. Pasokan domestik yang dominan membuat risiko gangguan dari konflik geopolitik kali ini relatif lebih terbatas untuk komoditas tersebut.

Tetapi, penting dicatat, tantangan ternyat tidak berhenti di pasokan bahan baku. Biaya logistik juga akan mengalami kenaikan seiring meningkatnya risiko pengiriman di jalur perdagangan internasional.

"Biaya logistik bisa dipastikan naik, terkait biaya asuransi hingga waktu transportasi yang akan bertambah," ujarnya.

Kenaikan premi asuransi kapal dan potensi perpanjangan rute pelayaran untuk menghindari wilayah konflik menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan ongkos kirim. Dampaknya tidak hanya dirasakan dari sisi impor bahan baku, tetapi juga pada ekspor produk tekstil nasional.

Struktur pasar ekspor TPT Indonesia saat ini. Ekspor TPT nasional ke wilayah Eropa sekitar 30% dari total ekspor, kemudian 40% nya ekspor ke AS yang masih terkendala oleh tarif resiprokal.

"Untuk menjaga dan memperbaiki kinerja, pemerintah perlu kasih kebijakan untuk dorong industri menguasai pasar domestik yang saat ini 60%-nya dikuasai produk impor," kata Redma.

Hampir 70% ekspor TPT Indonesia bergantung pada dua pasar utama, yakni Eropa dan AS. Ketika Eropa tertekan akibat gangguan logistik dan AS masih menghadapi kendala tarif, maka tekanan terhadap industri berpotensi terjadi secara simultan.

Satu yang pasti lagi. Ekspor ke Eropa pasti akan terganggu karena biaya logistik dan waktu pengiriman. Kalau impor, sepertinya tidak akan terpengaruh banyak. Karena Indonesia impor benang dan kain 90% dari China.

Impor benang dan kain dari China membuat pasokan untuk kebutuhan produksi dalam negeri relatif lebih aman dari sisi sumber barang. Namun, dari sisi ekspor, tekanan diperkirakan cukup signifikan. ***