EmitenNews.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai sebagai salah satu leading indicator dalam peningkatan ekonomi nasional, keberadaan pasar modal juga telah menunjukkan kondisi yang tangguh meski di tengah berbagai tantangan multidimensi global saat ini.


Kondisi tersebut didukung dengan menguatnya partisipasi lebih dari 800 perusahaan yang tercatat di bursa tahun ini serta peningkatan antusiasme masyarakat dalam melakukan investasi pada pasar modal.


Meskipun mengalami volatilitas yang cukup tinggi, penguatan kondisi pasar modal juga ditunjukkan dengan IHSG yang mencetak return positif di atas 5% secara year-to-date per 11 Oktober 2022 dibandingkan dengan beberapa indeks saham negara lain yang terkoreksi cukup dalam. Selain itu, capital flow di pasar saham juga mencatatkan net inflow yang hampir mencapai Rp70 triliun dalam kurun waktu 9 bulan.


"Kerja sama semua pihak, termasuk para penggiat pasar modal, ekonomi Indonesia mampu tumbuh di atas 5 persen selama 3 kuartal terakhir. Pada kuartal III dan IV tahun ini kita berharap pertumbuhannya dapat mencapai target 5,2 persen," ungkapnya saat menyampaikan keynote speech secara virtual sekaligus membuka acara Capital Market Summit & Expo 2022, Kamis (13/10).


Selain membahas seputar perkembangan pasar modal domestik, Menko Airlangga juga turut menjelaskan terkait kondisi sektor konsumsi dan investasi yang menunjukkan daya beli masyarakat yang tetap solid, indikator Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan penjualan eceran per September 2022 yang masih terjaga, PMI manufaktur yang berada pada level ekspansi, serta kredit perbankan yang tumbuh di atas 10% sejak Juni 2022.


Lebih lanjut, Menko Airlangga turut menuturkan perkembangan sektor eksternal yang menorehkan surplus pada neraca transaksi berjalan dan neraca perdagangan, serta cadangan devisa dan rasio utang yang masih berada pada level aman.


Dalam kurun waktu Januari hingga Agustus 2022, suplus neraca perdagangan tersebut telah mencapai USD35 miliar dan dipicu dengan adanya peningkatan ekspor komoditas utama seperti batu bara, palm oil, dan nikel.


Dengan adanya penguatan kondisi ekonomi pada sejumlah sektor tersebut, Pemerintah terus berupaya melakukan navigasi ekonomi melalui berbagai upaya, salah satunya dengan mengalokasikan anggaran PEN tahun 2022 sebesar Rp455,6 triliun yang difokuskan pada penanganan kesehatan, perlindungan masyarakat, dan penguatan pemulihan ekonomi dengan tujuan untuk menjaga kepercayaan dunia usaha.


"Pemerintah juga telah mengalokasikan tambahan bantuan sosial sebesar Rp24,17 triliun untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah peningkatan harga, yang terdiri dari BLT BBM sebesar Rp12,4 triliun untuk 20,65 juta keluarga penerima manfaat, BSU sebesar Rp9,6 triliun untuk 16 juta pekerja, dan sebesar 2% dari DTU untuk subsidi sektor transportasi yang telah dialokasikan Pemerintah Daerah sebesar Rp3,4 triliun," papar Airlangga.


Terkait dengan pencapaian target pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, Pemerintah menerapkan grand strategy seperti reformasi struktural dengan implementasi Undang-Undang Cipta Kerja, percepatan digitaliasi, pemberantasan kemiskinan ekstrem, hilirisasi industri berbasis prinsip ekonomi hijau, serta optimalisasi Lembaga Pengelola Investasi (LPI)/INA yang diarahkan pada sektor energi terbarukan.


Pemerintah juga terus berkomitmen untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 dengan menerapkan perdagangan karbon maupun pajak karbon yang akan berjalan penuh pada tahun 2025.


Selain itu, untuk memperkuat komitmen dalam transisi energi, Pemerintah juga melakukan percepatan pengembangan energi terbarukan untuk penyediaan tenaga listrik sehingga diharap mampu mendorong terwujudnya green industry.(fj)