EmitenNews.com - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pemulihan kepercayaan investor di tengah volatilitas global tidak cukup hanya mengandalkan intervensi pasar. Faktor kunci yang dibutuhkan saat ini adalah konsistensi dan predictability kebijakan, serta sinergi kuat antara kebijakan fiskal, moneter, dan energi.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menjelaskan bahwa pergerakan IHSG sepanjang 2025 hingga awal 2026 yang sempat mencetak rekor tertinggi (ATH) tidak sepenuhnya ditopang fundamental ekonomi. Kenaikan tersebut lebih banyak dipicu faktor teknikal, khususnya terkait MSCI, sehingga menciptakan gap antara pasar saham dan kondisi makro riil.

Memasuki 2026, tekanan global semakin intens seiring lonjakan harga minyak Brent crude oil yang menembus US$115 per barel dari sekitar USD60 di akhir 2025, serta pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.200–Rp17.300 per dolar AS. Kondisi ini diperparah dengan aksi net foreign sell yang telah mencapai sekitar Rp32,9 triliun secara year-to-date, serta kinerja IHSG yang masih tertekan.

Menurut Mirae, tekanan tersebut berpotensi membuat asumsi makro pemerintah meleset, terutama terkait nilai tukar dan harga energi yang telah melampaui target APBN. Meski ekonomi Indonesia masih tumbuh positif, penyesuaian proyeksi dinilai perlu dilakukan lebih cepat untuk menjaga kredibilitas kebijakan.

Dari sisi sektoral, industri manufaktur dinilai paling rentan, khususnya yang bergantung pada bahan baku berbasis plastik akibat kombinasi pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi. Sebaliknya, sektor komoditas seperti emas dan pertambangan, serta telekomunikasi, dinilai lebih defensif dalam menghadapi tekanan global saat ini.

Mirae juga menilai langkah regulator dan SRO dalam meningkatkan transparansi kepemilikan saham menjadi katalis positif bagi kepercayaan investor, termasuk asing dan MSCI. Namun, dalam jangka panjang, stabilitas pasar tetap akan sangat ditentukan oleh konsistensi kebijakan yang terintegrasi dan dapat diprediksi.