EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi diperdagangkan mix dengan kecenderungan koreksi. Maklum, minggu ini para pelaku pasar akan mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat (AS), dan keputusan suku bunga The Fed.
Pelaku pasar dalam negeri menanti data ekspor-impor November 2022 dengan konsensus akan melambat. ”Kami perkirakan Indeks bergerak pada rentang support 6.690, dan resisten 6.800,” tutur Ayu Dian, Research Analyst Reliance Sekuritas Indonesia, Senin (12/12).
Secara teknikal, Indeks kembali breakdown dari support 6.747 dengan volume jual tinggi. Kondisi tersebut diikuti indicator MACD, dan Stochastic belum menunjukkan tanda rebound. Beberapa saham memiliki potensi naik untuk perdagangan hari ini yaitu MDKA, BRPT, BBCA, TBIG, AGII, dan BIPI.
Akhir pekan lalu, Indeks longsor 1,31 persen menjadi 6.715. Beberapa sektor mengalami pelemahan antara lain energi minus 2,58 persen, teknologi susut 1,77 persen, dan industrials turun 1,46 persen. Investor asing membukukan net sell pasar regular Rp568 miliar. Saham paling banyak dijual investor asing di antaranya GOTO, TLKM, dan GPRA.
Sementara itu, ketiga indeks utama bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street ditutup melemah. Dow Jones terkoreksi 0,90 persen. Rilis data PPI AS pada November 2022 mulai melandai menjadi 7,4 persen dari sebelumnya 8,1 persen, dan secara bulanan tercatat 0,3 persen atau di atas konsensus pasar.
Pagi ini, bursa Asia telah mengsalami koreksi. Indeks Nikkei 225 melemah 1,41 persen, dan indeks Kospi terpangkas 0,58 persen. Pagi ini, Jepang merilis data PPI November 2022 mengami pelabatan dari bulan sebelumnya menjadi 9,3 persen Yoy. (*)
Related News
Teruskan Komitmen, Indomilk Bangun Kesadaran Gizi Sejak Dini
Guncang Jakarta! 45 Ribu Pelari Sukseskan BTN Jakim 2026
Likuiditas Global Tersedot IPO SpaceX dan World Cup, Apa Kabar IHSG?
Start Strong! BTN Jakim 2026 Hari Pertama Bikin Jakarta Full Energi
IHSG Menguat Pekan Depan? Cek Prediksi Area Support dan Resistance
Simak! Ini Cara CIMB Niaga Dukung Bulan Literasi Keuangan OJK 2026





