MSCI Jadi Pemantik, IPOT Nilai Volatilitas IHSG Awet hingga Akhir Mei
:
0
Panggung Main Hall Arena Bursa Efek Indonesia (BEI).
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum berhasil keluar dari tekanan. Setelah ditutup nyungsep ke level 6.723 (-1,98%) pada Rabu lalu (13/5) dan Senin kemarin (18/5) kembali ditutup melorot di 6.599 (-1,85%) pasar saham domestik masih dibayangi gelombang rebalancing indeks MSCI yang memicu aksi jual investor asing dan meningkatkan volatilitas perdagangan dalam negeri.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Imam Gunadi dikutip Selasa (19/5) menilai fokus utama pasar saat ini tidak lagi sekadar soal valuasi maupun kinerja emiten, melainkan reposisi portofolio investor global menjelang effective date rebalancing MSCI pada 29 Mei 2026.
Menurutnya, keluarnya sejumlah saham besar seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, hingga CUAN dari MSCI Global Standard Index menjadi katalis utama tekanan jual di pasar domestik.
“Keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham besar seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, hingga CUAN dari Global Standard Index menjadi katalis utama meningkatnya tekanan jual di pasar domestik,” ujar Imam Gunadi dalam risetnya.
Ia menjelaskan investor asing mulai melakukan penyesuaian posisi lebih awal sebelum rebalancing efektif berlaku. Kondisi itu memicu passive outflow agresif di pasar saham Indonesia, di tengah sentimen global yang juga belum kondusif usai ekspektasi pemangkasan suku bunga bank sentral AS kembali mundur.
Tekanan semakin berat setelah dolar Amerika Serikat terus menguat dan menekan mata uang emerging market, termasuk Rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.520 bahkan 17.668 per dolar AS.
Di saat bersamaan, konflik geopolitik Timur Tengah dan gangguan distribusi energi global turut mengerek harga minyak dunia di atas USD105 per barel.
Meski demikian, IPOT menilai tekanan pasar saat ini lebih mencerminkan faktor teknikal dan mekanisme global rebalancing dibanding deteriorasi fundamental ekonomi domestik secara struktural. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang tetap resilien di level 5,61 persen year on year (yoy).
“Tekanan pasar saat ini lebih mencerminkan faktor teknikal dan mekanisme global rebalancing dibanding deteriorasi fundamental ekonomi domestik secara struktural. Dengan pertumbuhan GDP Indonesia kuartal I-2026 yang tetap solid di level 5,61 persen, pasar domestik sebenarnya masih memiliki fondasi fundamental yang cukup resilien,” imbuh Imam.
Untuk pekan perdagangan 18–22 Mei 2026, IPOT memperkirakan volatilitas pasar masih tinggi, terutama menjelang sesi closing auction yang biasanya menjadi titik utama penyesuaian portofolio passive funds global. Kendati begitu, terdapat peluang rotasi inflow menuju saham-saham yang diperkirakan mengalami peningkatan bobot indeks seperti BMRI, BRMS, PGAS, ADRO, INDF, MTEL, hingga TOWR.
Related News
IHSG Dibuka Fluktuatif, Drop 0,30 Persen ke 6.579
Rupiah Sudutkan IHSG, Gulung Saham TLKM, ASII hingga MEDC
IHSG Tertekan, Akrobat Rupiah Bikin Investor Waswas
IHSG Ambruk ke 6.599, Analis Prediksi Masih Berpotensi Koreksi
SpaceX Siap Melantai di Nasdaq, Berpotensi Jadi IPO Terbesar
IHSG ke 6.599 Bukan Sekadar Koreksi Biasa, Tapi Memasuki Fase Krisis





