EmitenNews.com - Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) belakangan ini tertahan di harga terendah bursa, yaitu Rp50 per saham. Padahal, jika kita kilas balik ke masa eforia awal, perjalanan harga saham ini sangatlah bertolak belakang. Melantai dengan harga IPO Rp338 per saham, GOTO sempat menyentuh rekor harga tertinggi (All-Time High) di sekitar level Rp416 pada pertengahan tahun 2022.

Kontras tajam berupa penurunan harga hingga lebih dari 88% dari titik puncaknya ke level "gocap" saat ini menyisakan kebingungan bagi banyak investor ritel. Mengapa harganya tidak kunjung naik, padahal perusahaan baru saja mengumumkan keuntungan dan harganya terlihat "murah"?

Jika kita membedah situasinya secara objektif dari prinsip dasarnya (first principles), masalah utama GOTO bukan sekadar soal bisnis. Ini adalah kombinasi mematikan dari aturan antrean bursa, beban aturan pemerintah yang baru, dan bagaimana investor ritel tanpa sadar menjadi penampung barang jualan pihak asing.

Peringatan Sejak Awal dan Hak Suara yang Timpang

Keruntuhan harga saham GOTO dari harga puncaknya sebenarnya sudah bisa diantisipasi jika kita membaca dokumen prospektus (buku panduan awal) perusahaan secara teliti. Sejak awal, perusahaan berterus terang bahwa mereka mencatatkan kerugian yang besar dan belum tentu bisa mencetak atau mempertahankan keuntungan di masa depan.

Ada juga aturan hak suara yang membuat posisi investor publik menjadi sangat lemah. GOTO menerapkan aturan saham kelas ganda, di mana 1 lembar Saham Seri B milik pendiri setara dengan 30 hak suara, sedangkan 1 lembar Saham Seri A milik publik hanya bernilai 1 suara. Artinya, meskipun ratusan ribu investor ritel bersatu untuk menuntut perbaikan harga, suara mereka secara hitungan matematika tidak akan cukup kuat untuk mengubah keputusan penting perusahaan.

Berakhirnya Masa Kunci Saham dan Terjebaknya "Ritel"

Saat awal melantai di bursa, ada aturan larangan jual saham (lock-up) selama 8 bulan untuk pemegang Saham Seri A dari sebelum IPO, dan 2 tahun untuk pemegang Saham Seri B. Ketika masa larangan ini habis, pihak yang memegang saham dari sebelum IPO akhirnya bisa menjual sahamnya secara bebas ke pasar. Kejatuhan harga dari level ratusan perak ke Rp50 sangat dipengaruhi oleh terbukanya keran pasokan barang ini.

Data menunjukkan bahwa investor ritel lokal yang banyak menampung limpahan barang tersebut. Pada Maret 2026, terjadi lonjakan 7.888 akun investor baru di saham GOTO hanya dalam waktu satu bulan, sehingga totalnya mencapai 362.047 akun.

Mari kita lihat siapa sebenarnya para investor ini lewat data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per April 2026: