Nilai Tukar Rupiah Masih Berpotensi Ditutup di Level Rp17.000-an
ILUSTRASI, Nilai tukar mata uang rupiah terhadap US Dolar.
EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap kurs dolar AS mengalami pelemahan pada perdagangan pagi ini, Jumat (10/4/2026).
Mengacu Bloomberg, hingga pukul 09.48 rupiah berada di level Rp17.112 per USD. Nilai rupiah turun 22 poin atau setara 0,13 persen dari Rp17.190 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan prediksi mengalami pelemahan.
“Perdagangan hari ini, pergerakan rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di tentang Rp17.090 per USD hingga Rp17.140,” tutur Ibrahim.
Ibrahim juga menerangkan, pergerakan kurs rupiah hari ini masih dipengaruhi sentimen di Selat Hormuz. Meski telah disepakati gencatan senjata, ketegangan geopolitik kembali meningkat di Timur Tengah mengaburkan prospek pasokan minyak global sebagian terblokir.
Sentimen pasar juga kian terganggu oleh meningkatnya serangan Israel di Lebanon, yang dinilai berisiko merusak gencatan senjata yang rapuh.
“Iran mengatakan, pembicaraan damai dengan AS akan tidak masuk akal setelah serangan terbaru, dengan alasan bahwa serangan tersebut melanggar ketentuan gencatan senjata yang baru diumumkan,” tutur Ibrahim.
Sementara itu menurut risalah FOMC bulan Maret yang dirilis pada hari Rabu, para pejabat Fed masih memperkirakan akan menurunkan suku bunga tahun ini, bahkan ditengah tingkat ketidakpastian yang tinggi dari perang Iran dan tarif.
“Para pembuat kebijakan menyatakan bahwa mereka perlu tetap gesit saat mereka mempertimbangkan dampak perang terhadap inflasi, yang terus berada di atas target Fed, dan perekrutan tenaga kerja, yang sebagian besar stagnan selama setahun terakhir,” ungkap Ibrahim.
Di sisi lain, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 4,7 persen, turun dari perkiraan sebelumnya 4,8 persen. Meski direvisi turun, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) yang hanya 4,2 persen.
Prospek ekonomi kawasan dipengaruhi tiga faktor eksternal utama, yakni konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi, pembatasan perdagangan di Amerika Serikat serta ketidakpastian kebijakan global, dan perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Pesimisme Bank Dunia dan OECD berbanding terbalik dengan Pemerintah yang optimis memproyeksikan ekonomi 2026 tumbuh kuat di kisaran 5,4–5,7 persen didorong oleh konsumsi domestik, investasi, dan program biodiesel B50, dengan optimisme mencapai 6 persen melalui transformasi struktural,” jelas Ibrahim.
Adapun sepanjang perdagangan hari ini, Ibrahim menyebut mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.090- Rp17.140.
Related News
Pertamina Siapkan lima Strategi Antisipasi Melonjaknya Harga Energi
Proyeksi Pertumbuhan RI Dikoreksi, Purbaya: Bank Dunia Salah Hitung
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp7.000 Per Gram
Prof Didik: Krisis Harga Minyak Momentum Perkuat Sektor SDA
Sejumlah Bank Sentral Ketahuan Borong Emas Murah
Siasati Mahalnya Wadah Plastik, Pelaku UMKM Pilih Jaga Harga Jual





