OJK dan SRO Simak! Ini Solusi Agar Efek MSCI Tak Berkepanjangan
Penutupan perdagangan Rabu (28/1/2026), IHSG anjlok 7,35 persen ke level 8.320,56. FOTO-Emitennews.com/Akhmad Jihara
EmitenNews.com - Direktur Eksekutif CSA Institute, David Sutyanto memberi solusi atas anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) imbas keputusan MSCI. Solusi terhadap situasi tersebut, kata David, sebetulnya cukup jelas dan berada dalam jangkauan.
Pertama, David menjelaskan perlunya penguatan transparansi struktur kepemilikan melalui penyempurnaan kualitas data, keterbukaan informasi, serta kemudahan akses bagi investor institusi global tanpa mengorbankan perlindungan data yang sah.
Kedua, harmonisasi dan penyempurnaan kebijakan teknis bursa seperti suspensi, FCA, dan mekanisme perdagangan lainnya perlu diarahkan pada prinsip keterprediksian dan konsistensi, sehingga pasar memahami dengan jelas kerangka main yang berlaku.
Ketiga, komunikasi aktif dan terstruktur dengan MSCI dan komunitas investor global perlu diperkuat, agar setiap perbaikan yang dilakukan dapat dipahami dan diakui secara internasional. Kita memiliki waktu 4 bulan untuk melakukan itu semua.
“Upaya ini tentu tidak bisa dilakukan oleh satu lembaga saja. Diperlukan kerja kolaboratif antara OJK, BEI, KSEI, emiten, serta seluruh pemangku kepentingan pasar, kata David kepada Emitennews.com, Rabu (28/1).
David juga berpendapat, pembentukan satuan tugas bersama lintas otoritas yang berfokus pada peningkatan transparansi, konsistensi regulasi, dan komunikasi internasional dapat menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa perbaikan berjalan cepat, terkoordinasi, dan kredibel.
Sementara itu, David menilai jika momentum ini dimanfaatkan dengan baik, bukan hanya status Indonesia sebagai Emerging Market yang dapat dipertahankan, tetapi kualitas pasar modal nasional justru dapat meningkat dan semakin dipercaya oleh investor global.
“Koreksi IHSG hari ini sebaiknya dipahami sebagai refleksi dari proses penyesuaian pasar terhadap informasi baru. Lebih dari itu, situasi ini memberikan kesempatan bagi pasar modal Indonesia untuk melakukan penguatan struktural yang akan berdampak positif dalam jangka panjang,” ucap David.
Sebagai tambahan informasi, IHSG ditutup ambles pada perdagangan Rabu (28/1/2026) setelah sentimen negatif dari kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) memicu aksi jual masif di pasar. Indeks komposit terperosok 659,67 poin atau 7,35 persen ke level 8.320,56.
Sebelum tutup perdagangan, Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat memberlakukan trading halt pada pukul 13:43:13 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS) sebelum akhirnya kembali dibuka pada pukul 14:13:13 JATS tanpa perubahan jadwal. (*)
Related News
BEI–KSEI Bakal Kerja Ekstra, Rombak Rumusan Data Investor Imbas MSCI
BEI Merongrong Minta MSCI Terapkan Equal Treatment di Bursa Lain
BEI Waspada! Indonesia Terancam Turun Kelas Jadi Frontier Market
BEI Ungkap Pernah Negosiasi Data Free Float dengan MSCI, Namun Gagal
OJK Tuntaskan Penyidikan Pidana Pindar Crowde Membangun Bangsa
BEI Tegaskan Riset Sekuritas Wajib Independen, Investor Diminta Kritis





