EmitenNews.com - Polemik investasi Federal Land Development Authority (FELDA) Malaysia di PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT) kembali mencuat. Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim bahkan dikabarkan sampai meminta bantuan Presiden Prabowo Subianto untuk menindaklanjuti persoalan ini.

"Investasi BWPT masih menghadapi proses hukum di Indonesia. Saya sudah menyurati Presiden Prabowo Subianto agar beliau dapat menindaklanjuti persoalan tersebut. Jika masalah ini tidak segera ditangani, potensi kerugian yang kami hadapi bisa mencapai RM2,5 miliar, sedangkan dana yang mungkin dapat dipulihkan hanya sekitar RM200 juta,” ujar Anwar kepada media, Rabu (26/8/2026).

PM Malaysia itu juga meminta manajemen FELDA memahami masalah tata kelola dan tidak tepengaruh narasi yang mengecilkan persoalan.

Tanggapan OJK: Transaksi Antar Pemegang Saham

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi dalam wawancara di Gedung BEI, Jumat (28/8/2026) mengatakan transaksi yang disorot merupakan kegiatan jual-beli saham antar pemegang saham BWPT.

“Mohon dipahami bahwa transaksi yang terjadi adalah murni proses jual-beli saham dari pemegang saham dari perusahaan atau emiten BWPT dimaksud. Jadi tidak langsung terkait dengan emitennya,” kata Hasan.

Hasan menjelaskan transaksi dilakukan oleh pemegang saham awal yang menjual kepemilikannya ke pihak lain dengan klausul opsi pembelian kembali (buyback). Sengketa dugaan wanprestasi dari perjanjian itu kini tengah diselesaikan melalui badan arbitrase.

Meski demikian, OJK bersama BEI tetap memastikan keterbukaan informasi terkait saham BWPT terus disampaikan ke publik.

BWPT: Klaim FELDA Bukan Tanggung Jawab Kami

BWPT melalui Corporate Secretary Rizka Dewi Sulistyorini juga memberikan klarifikasi. Perseroan menolak dikaitkan dengan klaim kerugian FELDA sebesar RM2,5 miliar.